Tampilkan postingan dengan label Pustaka Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka Islam. Tampilkan semua postingan

Diantara kebiasaan orang dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong tahun baru. Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru?

Bolehkah Merayakannya?

Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan kepadanya: “Apakah disana ada berhala sesembahan orang Jahiliyah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”. (Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Allah di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Allah, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Perbuatan ini juga menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala’ (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala’ terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.

Keburukan yang Ditimbulkan

Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak keburukan, diantaranya:
  1. Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
  2. Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
  3. Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…
  4. Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Allah. Wallahu a’lam…
Penulis: A. Akadhinta

Mungkin di antara sebagian pembaca belum tahu asal usul dan kapan sebenarnya awal mula berdirinya negara Israel, dan sejak kapan negara Yahudi ini mencaplok tanah Palestina.
 
Israel sudah berdiri di Palestina selama kurang lebih 60 tahun. waktu  yang sangat lama. Mereka menjajah Palestina dan hanya menyisakan Gaza saja yang belum utuh mereka taklukan. Di Gaza, ada sebuah tembok besar yang tak pernah berhasil diruntuhkan oleh Israel: Hamas. Bagaimanakah Israel berdiri?

Gerakan antisemit di seluruh dunia melahirkan reaksi balik berupa gerakan Zionisme sedunia, yang digagas oleh Dr. Theodore Herzl (1896), seorang Yahudi Hongaria di Paris. Menurut Herzl, satu-satunya obat mujarab untuk menanggulangi antisemitisme adalah adalah dengan menciptakan suatu tanah air bagi bangsa Yahudi.

Melalui pamfletnya yang berjudul “Der Yuden Staat,” Herzl mulai mempropagandakan cita-citanya tersebut. Awalnya Herzl belum menegaskan di mana letak tanah air bangsa Yahudi akan dibangun. Mula-mula disebut Argentina atau Palestina. Tetapi dalam kongres kaum Zionis pertama di Basel, Swiss tahun 1897, mereka menetapkan Palestina sebagai pilihannya.

Alasan pemilihan Palestina adalah latar belakang historis untuk mengembalikan ”Haikal Sulaiman” yang merupakan lambang puncak kejayaan Kerajaan Yahudi di tanah Palestina (sekitar 975 – 935 SM). Maka, sejak 1930 eksodus Yahudi dari Eropa ke Palestina meningkat tajam, terutama pada Era Nazi Jerman (Perang Dunia II).Berdirinya Israel tidak lepas dari keruntuhan khilafah. Khalifah Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid sebagai penghalang terbesar diturunkan sebagai Khalifah oleh gerakan Turki Muda.


 Waktu itu, tahun 1909, Sultan Abdul Hamid mengeluarkan pernyataan keras kepada Yahudi: ”Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniyah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian!” Tidak heran kalau kemudian Yahudi berkonspirasi menghancurkan Sultan Abdul Hamid.

Pada Perang Dunia I (1914-1918), Turki Utsmani bergabung dengan Poros Central (Jerman, Austria-Hungaria) melawan Sekutu. Namun pada 1916, Inggris dan Prancis berkongkalingkong untuk membagi wilayah Timur Tengah dan terkenal dalam Perjanjian Sykes Picot. Dalam Deklarasi Balfor tahun 1917, Inggris mendukung pembentukan Negara Yahudi di tanah Palestina.

Berikut adalah isi surat dari Arthur James Balfour yang berdiri di belakang perjanjian laknat itu. ”Lord Rothschild yang terhormat, saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet. Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya . Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.”

Tahun 1918, Palestina jatuh. Jendral Allenby merebut Palestina dari Khilafah Turki Utsmani. Setahun kemudian, secara resmi mandat atas Palestina diberikan kepada Inggris oleh LBB. Pada tahun 1947, PBB dengan sewenang-wenang membagi dua wilayah Palestina. 1948 menjadi tahun bersejarah bagi Yahudi karena merupakan tahun deklarasi pembentukan Israel. Tepat hari berakhirnya mandat dan penarikan pasukan Inggris dari Palestina dideklarasikan Pendirian Negara Israel, 14 Mei 1948.

Ada beberapa perang yang pantas diingat dalam sejarah berdarah Yahudi. Pada 1948 ada Perang Arab Israel I. Mesir, Jordania, dan Syria masing-masing menduduki Gaza, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan. Pada 1967 terjadi Perang 6 Hari, Mesir, Jordani, Syiria menyerang Israel, tapi justru kehilangan ketiga daerah hasil perang 1948 bahkan Gurun Sinai lepas dari Mesir. Dan pada tahun 1973 terjadi Perang Yom Kippur, Mesir dan Syria menyerang Israel. Diikuti embargo minyak kepada negara-negara Barat.

Tapi pada tahun 1978 dalam Perjanjian Camp David, Mesir mendapatkan kembali Gurun Sinai dengan syarat tidak lagi memerangi Israel. Gaza, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan tetap dalam kontrol Israel. Puncaknya pada tahun 1992 dibuat Perjanjian Oslo. Pengakuan PLO atas eksistensi Israel dan penunjukkan PLO sebagai otoritas resmi atas Jalur Gaza dan Tepi Barat. Sejak saat itu Israel semakin berdiri kokoh di tanah jajahannya, Palestina.

Kemarin Israel kembali memperlihatkan kebrutalannya dengan membunuh para relawan kemanusiaan di kapal Mavi Marmara. Kapal ini membawa berton-ton bantuan makanan, pakaian, dan obat-obatan bagi warga Gaza yang menderita akibat blokade Israel. Peristiwa tragis yang terjadi kemarin membuka mata dunia kembali tentang penderitaan warga di jalur Gaza, Palestina.

Kekejaman Israel terhadap bangsa Palestina memang sudah diluar batas-batas peri kemanusiaan. Dua bangsa ini, Palestina dan Israel tidak pernah bisa hidup tenang. Bangsa Pelestina menuntut tanah mereka yang dirampas oleh Israel, sedangkan Israel berdalih bahwa tanah di Palestina itu adalah tanah yang dijanjikan oleh Tuhan kepada mereka seperti yang tertulis di dalam kitab Taurat.

Palestina saat ini terbagi menjadi dua wilayah yang terpisah, satu Tepi Barat (West Bank) dan satunya lagi Jalur Gaza (Gaza Strip), keduanya dipisahkan oleh wilayah Israel. Di kawasan Tepi Barat inilah terletak kota Yerussalem — kota suci tiga agama — dengan Masjidil Aqsa nya yang bersejarah. Sedangkan Jalur Gaza adalah kawasan yang miskin sumberdaya alam dan sejarah.

Jalur Gaza ini sebenarnya kecil saja, tidak lebih besar dari Jakarta. Panjangnya hanya 41 km dan lebarnya hanya 6 sampai 10 km. Namun, biarpun kecil, warganya terkenal lebih tertib dan lebih taat beragama. Ini berbeda dengan kawasan Tepi Barat yang warganya lebih liberal. Perbedaan gaya hidup ini karena di kedua wilayah itu memerintah dua partai berbeda. Di Tepi Barat memerintah faksi Fatah yang terkesan lebih lunak dalam berdamai dengan Israel, sedangkan di kawasan Jalur Gaza memerintah faksi Hamas yang lebih agamis dan tidak mau tunduk kepada Israel.

Sudah tiga tahun jalur Gaza diblokade oleh Israel, baik dari darat, laut maupun udara. Warga Gaza tidak bisa pergi kemana-mana, mereka terkurung di wilayah yang sempit itu. Mau lewat laut Mediterania, sudah menunggu kapal-kapal Isrel yang siap menghadang dan kalau perlu menembak mati orang Palestina. Mau lewat darat harus menyeberang daratan Israel atau pintu perbatasan dengan Mesir. Mesir juga tidak membuka pintunya bagi warga Gaza. Otomatis Gaza bagaikan penjara raksasa dan terbesar di dunia. Penduduk Gaza benar-benar terkurung di dalam penjara itu. Israel berharap dengan blokade itu ekonomi di Gaza lumpuh dan akhirnya Gaza bertekuk lutut kepada Israel.

Tetapi, apa yang terjadi? Kenyataanya Gaza tidak benar-benar lumpuh sama sekali. Meskipun infrastruktur di Gaza sudah dihancurleburkan oleh serangan Israel pada tahun 2009 yang lalu, Gaza tetap saja eksis. Kehidupan masih bisa berderak meskipun tetap terasa sulit. Blokade membuat warganya menjadi kreatif. Mereka menggali terowongan yang dalam dan panjang di bawah perbatasan Gaza dan Mesir. Lewat terowongan itulah perdagangan gelap berlangsung antara warga Mesir dan warga Gaza. Meskipun Pemerintah Mesir tidak mengakui Hamas dan terikat perjanjian dengan Isrel dan Amerika Serikat untuk ikut memblokade Gaza, namun warga Mesir berbeda dengan pemerintahannya. Orang Mesir tetap setali-sepersukuan dengan bangsa Palestina. Buktinya, mereka tetap menjalin hubungan perdagangan dan mengirim bantuan secara ilegal kepada sudara-saudaranya di Gaza.

Israel tampaknya lupa, bahwa secara psikologis jika orang ditekan dari mana-mana, maka ia semakin bertahan dan semakin militan. Bukan semakin lemah nyalinya, tetapi semakin kuat saja. Kenapa begitu? Karena, bagi warga Gaza hidup dan mati itu tidak ada bedanya. Apalah artinya hidup jika kemerdekaan hidup itu dirampas, namun mati begitu saja juga tidak ada gunanya. Oleh karena itu, mati terhormat adalah mempertahankan hidup dengan tidak mau tunduk kepada Israel. Kalaupun mati di tangan Israel demi mempertahankan hidup, mereka memandangnya sebagai mati syahid.

Hidup dalam penjara memang tidak enak. Bila anda dipenjara selama bertahun-tahun dan pasokan makanan terhenti, apa yang terjadi? Anda pelan-pelan akan mati kelaparan. Begitu juga Gaza, meskipun mereka masih tetap bertahan hingga saat ini, namun jika blokade itu terus menerus selama bertahun-tahun, pada suatu hari nanti pertahanan mereka akan runtuh juga juga. Krisis kemanusiaan yang dahsyat telah menanti. Obat-obatan yang dibutuhkan oleh warga yang sakit tidak bisa masuk. Ribuan orang mungkin akan sekarat menunggu ajal.

Maka, itulah yang menggerakan aktivis kemanusiaan dari seluruh dunia datang membawa bantuan makanan dan obat-obatan bagi warga Gaza. Persoalan di Gaza bukanlah persoalan agama, tetapi persoalan kemanusiaan dan hidup yang mendasar. Aktivis yang datang berasal dari berbagai kalangan bangsa dan agama, mulai dari kaum agamawan (pastor, ulama), politisi, pemenang hadiah nobel, dan relawan berbagai unsur lainnya. Mereka datang untuk menembus penjara yang dibuat oleh Israel. Tetapi sia-sia, belum lagi mereka sampai ke sana, Israel membunuh sebagian aktivis itu.

Mau berkata apa lagi kita melihat kekejian yang dilakukan oleh Israel itu. Sudah kering mulut untuk berteriak, sudah bengkak mata karena menangis, tetapi tidak ada tanda-tanda penjara itu akan terbuka. Kasihan warga Gaza. Israel telah memenjarakannya dan dunia tidak bisa berbuat apa-apa. Warga dunia hanya bisa menonton penghuni penjara itu berlari ke sana kemari, bagaikan para kelinci yang berlarian di dalam kerangkeng, sementara harimau dan singa siap menanti di luar kerangkeng itu.

Israel kembali memamerkan kecongkakannya. Unjuk rasa di berbagai belahan dunia yang mengutuk pendudukan Israel di tanah Palestina seakan tak ada artinya bagi negeri Yahudi ini. Bahkan kapal pembawa bantuan kemanusiaan yang terdiri dari relawan-relawan dari berbagai negara pun dihadang dan diserang di tengah perairan bebas, beberapa di antara relawan terbunuh dan sebagian lainnya mengalami luka berat. Seakan-akan Israel ingin menunjukkan bahwa sebagai sekutu Amerika tak ada yang bisa menghentikan tindakan-tindakan biadab mereka. Gaza meradang dalam siksaan yang sepertinya tak berujung dan negara-negara Islam seperti tak berkutik melihat penderitaan saudara Muslim mereka di Palestina.

Kali ini kami ingin mengulas tentang Gaza sebagai kota yang penuh dengan sejarah panjang dari jaman Rasulullah hingga sekarang. Jalur Gaza atau sering disebut dengan Gaza adalah nama wilayah yang terletak di Timur Tengah, tepatnya di Palestina, sebelah barat daya Palestina ’48 (wilayah Palestina sebelum perang tahun 1948). Sebelah selatan berbatasan dengan Mesir, sebelah barat, timur dan utara berbatasan dengan wilayah Palestina ’48.

Gaza merupakan wilayah yang bentuknya memanjang dan sempit. Panjang wilayahnya 45 km, lebar 5,7 km di beberapa bagian dan 12 km di bagian yang lain yaitu berbatasan dengan Mesir. Sehingga jika dijumlah, luas Jalur Gaza adalah 365 km persegi.

Bagi Kaum muslimin, Gaza merupakan negeri yang bersejarah, negeri perjuangan dan negeri syuhada’, karena banyaknya rakyat Gaza yang syahid di jalan Allah, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, hingga nenek-nenek dan kakek-kakek yang dibunuh tentara Zionis Iarael.

Gaza akan selalu diingat dan dikenang khususnya bagi mereka yang mencintai keluarga Rasulullah saw, bagi mereka yang menjadi pengikut mazhab Imam Syafi’i, bagi mereka yang berjuang dan melanjutkan perjuangan Imam Hasan Al Banna dengan gerakannya yang terkenal, Al Ikhwan Al Muslimin.

Datuk Rasulullah saw, Muhammad bin Abdillah, wafat dan dikubur di Gaza. Datuk Rasulullah saw namanya adalah Hasyim bin Abdu Manaf. Beliau adalah orang tua dari kakek Rasulullah saw, Abdul Muththalib yang terkenal dengan sebutan Syaibah karena ada segumpal rambut putih di kepalanya.

Imam Syafi’i, murid Imam Malik, pendiri mazhab Syafi’i, lahir pada bulan Rajab tahun 150 H (767 M) di Gaza, hari kelahiran Imam Syafi’i bertepatan dengan hari wafatnya Imam Abu Hanifah di Baghdad dan wafatnya Imam Ibnu Juraij Al Makky, seorang alim besar di kota Makkah, dikenal dengan Imam Ahli Hijaz.

Imam Syafi’i, nama lengkapnya Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Saib bin Ubaid bin Abu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushaiy. Silsilah dari jalur ibunya, Fathimah binti Abdullah bin Al Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (paman Nabi saw).

Bagi umat Islam yang mengikuti mazhab imam Syafi’i seharusnya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap Gaza, kota kelahiran Iman Syafi’i, yang saat ini penduduknya sedang disiksa secara masal oleh Zionis Israel dengan cara blokade.

Akibat blokade yang diterapkan penjajah Zionis Israel terhadap rakyat Gaza, maka kebutuhan pokok berupa makanan, susu untuk bayi, obat-obatan dan BBM (Bahan Bakar Minyak) tidak dapat masuk Gaza.
Berbagai obat-obatan yang dibutuhkan rakyat sudah menipis dan sebagian sudah habis. Jenis obat yang habis tersebut diperkirakan berjumlah 160 jenis. Sekitar 90 alat kedokteran sudah tidak dapat dipakai lagi karena tidak ada suku cadang yang dapat digunakan untuk memperbaikinya.

Apabila “kejahatan kemanusiaan” ini dibiarkan terus, tanpa ada yang mau dan mampu mencegahnya, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi tragedi kemanusian di abad modern.

Gaza adalah tempat yang pernah dikunjungi oleh Mursyid ‘Am Al Ikhwan Al Muslimin, Imam Hasan Al Banna, didampingi Ustadz. Abdah Qasim, Sa’duddin Al Walili dan Syekh Muhammad Farghali, Jum’at, 1948.

Imam Hasan Al Banna datang langsung ke kota Gaza, Palestina ditengah kesibukannya dalam berdakwah, untuk memberikan semangat kepada pasukan Al Ikhwan Al Muslimin yang berjihad di Palestina dan memberikan dukungan serta bantuan nyata kepada rakyat Palestina yang sedang berjuang melawan penjajah.

Ketika berada di kantor cabang Ikhwan, di kota Gaza Hasyim, Palestina, Imam Hasan Al Banna menulis kalimat singkat dibuku tamu yang tersedia. Kalimat tersebut tertulis dengan jelas: Hari ini, aku mengunjungi Kantor Cabang Ikhwan di kota Gaza Hasyim. Aku mempertanyakan asal-usul nama ini, Gaza Hasyim. Seseorang berkata kepadaku bahwa Hasyim adalah kakek Rasulullah saw yang kuburannya terdapat di kota Gaza.

Sekarang di Gaza, Palestina, negeri tempat dikuburnya datuk Rasulullah saw, Hasyim bin Abdu Manaf, tempat lahirnya Imam Syafi’i, tempat yang pernah dikunjungi Imam Hasan Al Banna, penduduknya sedang menderita, gelap gulita setiap hari karena pasokan BBM untuk listrik dihentikan Zionis Israel, anak-anak hidupnya tercekam, ketakutan, kebutuhan pokok makin menipis, makanan sulit didapat, penderitaan tersebut akibat blokade yang dilakukan penjajah Zionis Israel.

Disamping itu, dengan adanya tembok pemisah yang tingginya 8 m dan dalamnya 6 m dari permukaan tanah, tembok pemisah dikenal dengan nama “tembok rasialis” atau “tembok apharteid”, praktis penjajah Zionis Israel telah memenjarakan dan mengurung penduduk Gaza yang berjumlah sekitar 1,5 juta orang di kawasan yang luasnya 365 km persegi.

Sungguh sangat menyedihkan, sangat memilukan, betapa tidak? Umat Islam yang berjumlah sekitar 1,3 milyar tidak mampu menghentikan kebiadaban dan kezaliman yang dilakukan penjajah Zionis Israel di Gaza, Palestina.

Kezaliman yang dilakukan penjajah zionis Israel sampai kini masih terus berlanjut, bahkan mereka juga melakukan politik adu domba, politik devide et impera diantara rakyat Palestina. 
 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS:Al Hujuraat: 49 :10).

Apakah kita membiarkan saja rakyat Palestina ditindas, dijajah, dizalimi Zionis Israel? Lantas dimana ukhuwah kita? Dimana solidaritas kita? Dimana keimanan kita?

Rasulullah saw pernah bersabda:
Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas ra).

Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong hamba selama dia menolong saudaranya. (HR. Muslim).

Sekarang, marilah kita buat sejarah yang baik, sejarah yang akan bermanfaat untuk kita dan anak cucu dikemudian hari, sejarah yang dapat menghibur dan menyenangkan hati saudara-saudara kita di Gaza khususnya dan Palestina umumnya.

Caranya? Bantu mereka dengan doa! Dengan dana! Dengan tulisan dan lisan! Tunjukkan rasa empati dan peduli terhadap perjuangannya! Jangan membeli makanan dan minuman serta produk lainnya yang keuntungannya diberikan untuk Zionis Israel. Jika tidak mau membantu, jangan buat mereka sakit hati dengan prilaku borju, hedonis, materialis yang dipertontonkan secara vulgar tanpa ada perasaan malu.

Pada musim haji tahun ke-10 Hijriah, bersama-sama kurang lebih 114.000 kaum Muslimin yang datang dari segenap penjuru Arabia, Rasulullah saw menunaikan ibadah Haji Akbar yang bagi beliau sendiri adalah merupakan Haji Perpisahan (wada'), haji terakhir, karena beliau tidak dapat lagi bersama umatnya menunaikan ibadah suci itu pada tahun mendatang.

Dalam Haji Wada' inilah beliau menyampaikan mutiara wasiat yang amat berharga bagi umat beliau antara lain tentang hak dan kewajiban suami istri. Bunyi pesannya kira-kira seperti ini :

"Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita itu (istri)mu ada hak-hak yang harus kamu penuhi, dan bagimu juga ada hak-hak yang harus dipenuhi oleh istri itu. Ialah, bahwa mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kamu sendiri, dan mereka tidak boleh membawa orang lain yang tidak kamu sukai ke rumahmu, kecuali setelah mendapat izin dari kamu terlebih dahulu. Maka sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan yang demikian, sesungguhnya Allah telah berarti mengizinkan kamu untuk meninggalkan mereka, dan kamu boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Tetapi bila mereka berhenti dan tunduk kepadamu, maka menjadi kewajibanmulah untuk memberi nafkah mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, bahwa kaum hawa itu adalah makhluk yang lemah di sampingmu, mereka tidak berkuasa. Kamu telah bawa mereka dengan suatu amanat dari Tuhan dan kamu telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Dari itu takwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka! Wahai umat, bukankah aku telah menyampaikan?! O, Tuhan, tolonglah saksikan!"

Itulah sebagian pesan Rasulullah saw saat menunaikan Haji Wada' yang juga dikenal dengan Khutbah Arafah. Selain pesan tentang hak dan kewajiban suami istri tadi masih banyak pesan-pesan beliau dalam Khutbah Arafah ini yang Insya Allah akan kami angkat pada tulisan-tulisan berikutnya.

Oleh: Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali
Allah SWT berfirman (artinya), "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.' Ibrahim berkata, 'Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabb-Nya, kecuali orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 55-56).

Allah SWT berfirman, "Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf: 87).
Diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Abbas r.a., bahwa ada seorang lelaki yang berkata: "Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?" Rasulullah saw. menjawab (artinya), 'Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah'." (Hasan, HR Al-Bazzar [106/lihat Kasyful Atsaar], Thabrani dalam Al-Kabiir [8783, 8784 dan 8785], dan 'Abdurrazaq [19701]).
Kandungan Bab:

  1. Rahmah (kasih sayang) merupakan salah satu dari sifat Allah berdasarkan ketetapan Al-Qur'an dan As-Sunnah, sifat kasih sayang yang layak bagi Allah sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya.
  2. Pengaruh sifat ini dapat terlihat jelas di alam semesta, khususnya pada makhluk hidup. Nikmat dan karunia-Nya merupakan bukti keberadaan rahmat Allah yang Mahasempurna dan Mahaluas.
  3. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu dan menaungi semua makhluk. Tidak ada satu pun di alam semesta ini kecuali mendapat siraman rahmat Allah SWT. Allah 'Azza wa jalla berfirman tentang para Malaikat pengangkat 'Arsy dan Malaikat-malaikat yang berada di sekelilingnya, "Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan Neraka yang menyala-menyala." (Al-Mukmin: 7).
    Allah SWT berfirman, "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (Al-A'raaf: 156).
  4. Oleh sebab itu, pintu rahmat Allah terbuka bagi orang-orang yang telah menganiaya diri mereka sendiri untuk bertaubat. Allah SWT berfirman, "Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang'." (Az-Zumaar: 53).
    Dalam hadits Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah saw. bersabda, "Sekiranya hamba Mukmin tahu siksa yang Allah siapkan di sisi-Nya, tentu tidak ada seorang pun yang berharap (optimis) bisa masuk Surga. Sekiranya orang kafir tahu rahmat yang Allah siapkan di sisi-Nya, tentu tidak seorang pun yang berputus asa (pesimis) masuk Surga-Nya."
  5. Oleh sebab itu, berputus asa dari rahmat Allah SWT merupakan sifat orang-orang sesat dan pesimis terhadap karunia-Nya merupakan sifat orang-orang kafir. Karena mereka tidak mengetahui keluasan rahmat Rabbul 'Aalamiin. Siapa saja yang jatuh dalam perbuatan terlarang ini berarti ia telah memiliki sifat yang sama dengan mereka, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 148-150.
Diposkan oleh : Ladewa dalam Pustaka Islam

Melihat tayangan-tayangan tivi di Indonesia akhir-akhir ini yang didominasi acara gosip,  Ladewa tertarik sedikit membahas tentang hal ini dalam pandangan Islam yang dirangkum dari beberapa literatur buku-buku, Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih. Memang enak mengumbar lisan, tapi jangan tanyakan akibatnya. Hanya sepatah kata, tanpa disadari bisa menjadi sebab bagi seseorang untuk masuk ke jurang neraka yang amat dalam. Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya, ada seseorang yang berkata sepatah kata saja di mana dia menganggap tak ada dampaknya namun itu (menjadi sebab) dia terlempar ke dalam neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. at-Tirmidzi)

Kebanyakan orang yang masuk neraka juga karena lisannya, seperti sabda Nabi SAW:
“Adakah yang menenggelamkan hidung (wajah) manusia ke dalam neraka selain dari hasil perbuatan lisan mereka?” (HR. Ahmad)

Sabda Nabi SAW tersebut menunjukkan bahwa lisan adalah penyebab yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, meskipun dia seorang muslim. Namun, siksa yang menimpa muslim pasti ada akhirnya.

Para sahabat yang memahami betapa dahsyatnya bahaya lisan, sangat berhati-hati menjaga lisannya. Ibnu Mas’ud ra. berkata: “Tiada yang lebih layak untuk banyak dipenjarakan selain dari lisan saya.”

Iblis juga memahami hal ini. Menjerumuskan manusia ke dalam dosa lisan menjadi wilayah garap utamanya. Maka diangkatlah seorang anaknya menjadi pasukan khusus penyebar gosip. Qatadah menyebutkan, Iblis memiliki anak bernama al-Masuth yang bertugas khusus untuk membuat gosip, menyebarkan kabar burung yang tak jelas asalnya dan belum tentu kebenarannya, sekaligus menyebarkan kedustaan. Al-Masuth memperalat orang-orang yang hobi menyebar gosip menjadi perpanjangan lidahnya.

Dosanya Sesuai dengan Andilnya

Gosip berpotensi besar merusak kehormatan muslim, merapuhkan ukhuwah Islamiyah dan bahkan memicu terjadinya peperangan antara kaum muslimin. Seperti terjadi pada persitiwa ‘haditsul ifki’, berita dusta, di mana banyak rumor berkembang bahwa ummul mukminin Aisyah telah berbuat tidak senonoh dengan sahabat Shafwan. Akan tetapi Allah membersihkan nama beliau ra, sekaligus mengancam pelakunya dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. an-Nuur: 19)

Orang-orang yang menyebarkan gosip tidak berada pada satu level dosa, tetapi tergantung besar kecil andilnya dalam menyebarkan gosip. Allah berfirman tentang orang-orang yang ikut andil dalam haditsul ifki:
“Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. an-Nuur: 11)

Cara Kerja Setan Penyebar Dusta

Untuk menyebarkan berita bohong, setan memiliki cara yang halus dan licik. Dia tidak membisikkan ke hati manusia yang menjadi perpanjangan lidahnya untuk menyebarkan berita yang seluruhnya dusta. Tetapi dia menyelipkan berita yang benar di tengah tumpukan segudang kedustaan. Sehingga ada alasan untuk membela diri bahwa yang dikatakannya tidak semuanya salah, tapi ada juga yang benar.

Alasan lain, pihak yang digosip tidak marah, bahkan merasa senang. Seperti terjadi hari ini, banyak artis malah bangga menjadi obyek gosip, meski isinya miring. Kadang-kadang justru membuat sensasi agar digosipkan demi mendongkrak kete-narannya. Seperti pepatah Arab ‘bul zam-zam fa tu’raf’, kencingilah zam-zam niscaya engkau akan terkenal. Alasan ini tidak merubah status larangan menggosip orang, menceritakan semua kabar yang didengar. Nabi SAW memvonis orang yang gemar menceritakan setiap kabar yang didengarnya dengan predikat ‘pendusta.’ Beliau SAW bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan dusta jika dia menceritakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim)

Mengapa orang yang menceritakan semua yang didengarnya divonis sebagai pendusta? Karena tidak setiap kabar yang sampai kepadanya itu fakta yang benar-benar terjadi. Besar kemungkinan bahkan pasti ada diantaranya yang ternyata dusta. Jika dia menceritakan semua yang didengarnya, berarti ada juga berita dusta yang dia ceritakan kepada orang lain, maka jadilah dia pendusta.

Di sisi lain, ada informasi yang meski benar namun tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Seperti berita tentang aib maupun rahasia orang lain. Inilah yang disebut dengan ghibah. Nabi SAW bersabda: “Tahukah kalian, apakah ghibah itu? Ghibah adalah ketika engkau menceritakan tentang saudaramu apa yang tidak dia sukai?” Para sahabat bertanya: “Bagaimana menurut Anda jika apa yang kami katakan memang ada pada saudaraku itu?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan benar, maka berarti engkau telah menghibahnya, dan jika yang kamu katakan tidak ada padanya maka berarti engkau telah berdusta tentangnya.” (HR. Muslim)

Kegiatan ‘memakan bangkai’ saudaranya dan mengumbar gosip, menyebarkan kabar burung dan rumor dianggap sebagai menu yang renyah oleh kebanyakan orang. Ada yang bertujuan untuk menjatuhkan kehormatan, sekedar mengisi waktu atau untuk menghibur diri:

“Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah adalah besar.” (QS an-Nuur: 15)

Semua makhluk ciptaan Allah SWT dapat dibagi kepada dua macam, yaitu: makhluk yang gaib (al ghaib) dan makhluk yang nyata (as syahadah). Yang bisa membedakan keduanya adalah pancaindera manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolong­kan kepada al ghaib, sedangkan yang bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada as syahadah.

Untuk mengetahui dan mengimani wujud makhluk gaib tersebut, seseorang dapat menempuh dua cara. Pertama, melalui berita atau infor­masi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-Akhbar).
Kedua, melalui bukti bukti nyata yang menunjukkan makhluk gaib itu ada (bil atsar).

Salah satu makhluk gaib Allah adalah malaikat.

Allâh menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara makhluk-makhluk Allâh, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan ghaib . Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allâh melalui rasul dan kitab-Nya.

Salah satu jenis makhluk ghaib adalah malaikat. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Jumlah malaikat sangat banyak [kita tidak akan membahas lagi kata jumlah dalam dimensi ghaib]. Beberapa nama malaikat yang perlu dikenal adalah :

Jibril (Ruhul Amin, Ruhul Qudus, Gabriel). Bertugas menyampaikan wahyu dari Allâh.
Mikail (Michael). Mengatur urusan pengaturan semesta, termasuk rizqi manusia.
Izrail (Malaikat maut). Mencabut ruh semua makhluk.
Israfil. Meniup sangkakala pertanda hari kiamat.
Raqib. Mencatat amal baik manusia.
Atid. Mencatat amal buruk manusia.
Munkar dan
Nakir. Menanyai manusia yang baru wafat.
Ridwan. Menjaga surga.
Malik. Menjaga neraka.

Maka untuk meyakini dan mengimani keber­adaan malaikat bisa ditempuh dengan dua cara.
Pertama, melalui berita (akhbar) yang disampaikan oleh firman Allah dalam Al-Qur‘an maupun sabda Rasulullah SAW dalam Hadits. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits yang menjelaskan perihal malaikat. Karena kita mengimani kebenaran sumber (Al-Qur‘an dan Hadits), maka berita tentang malaikat pun kita imani adanya.

Kedua, kita dapat mengetahui dan mengimani wujud malaikat melalui bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta yang menunjukkan bahwa malaikat itu benar-benar ada. Misalnya, Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa manusia, dapat dibuktikan secara nyata dengan adanya peristiwa kematian manusia. Demikian pula dengan keberadaan Malaikat Jibril, bisa dibukti­kan secara nyata dengan adanya Al-Qur‘an yang disampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW.

Secara etimologis (lughawiy), kata “malaikah” yang dalam bahasa Indonesia disebut “malaikat,” adalah bentuk jamak dari kata “malak,” berasal dari mashdar “al-alukah” yang berarti ar-risalah (misi atau pesan). Yang membawa misi disebut “ar-rasul” (utusan). Dalam beberapa ayat Al-Qur`an, malaikat juga disebut dengan “rusul” (utusan-utusan), misalnya pada surat Hud 69. Bentuk jamak lainnya dari kata “malak” adalah “mala`ik.” Dalam bahasa Indonesia, kata “malaikat” bermakna tunggal (satu malaikat), bentuk jamaknya menjadi “malaikat-malaikat.”

Secara terminologis (isthilahiy), makaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya (nur) dengan wujud dan sifat-sifat tertentu.

Tentang penciptaan malaikat, Rasulullah SAW menginformasikan bahwa malaikat diciptakan dari cahaya (nur), berbeda dengan jin yang diciptakan dari api (nar):

“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua” (HR. Muslim).

Tentang kapan waktu penciptaannya, tidak ada penjelasan yang rinci. Tapi yang jelas, malaikat diciptakan lebih dahulu dari manusia pertama (Adam AS) sebagaimana yang disebutkan oleh ­Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 30:

“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...” (Al Baqarah 30).

Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dicicipi (dirasakan) oleh manusia. Dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca­indera, kecuali jika malaikat menampil­kan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Dalam beberapa ayat dan hadits disebutkan beberapa peristiwa malaikat menjelma menjadi manusia, seperti:

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucap­kan: Selamat. Ibrahim menjawab: Selamatlah, maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth” (Hud 69 70).

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur`an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur maka ia mengadakan tabir (yang malindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna” (Maryam 16 17).

Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa malaikat Jibril pernah datang dalam rupa manusia menemui Rasulullah SAW –disaksikan oleh sahabat sahabat beliau, antara lain Umar bin Khaththab– dan menanyakan tentang Islam, Iman, Ihsan dan Sa’ah (Kiamat). Setelah malaikat itu pergi barulah Rasulullah SAW bertanya kepada Umar: “Ya Umar, tahukah engkau siapa yang ber­tanya tadi. Umar menjawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ia adalah Jibril yang datang mengajarkan ad diin kepada kalian.” (HR. Muslim).

Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki atau perempuan, dan tidak berkeluarga. Hidup dalam alam yang berbeda dengan kehidupan alam se­mesta yang kita saksikan ini. Yang menge­tahui hakikat wujudnya hanyalah Allah SWT.

Jumlah malaikat sangat banyak, tidak bisa diperkirakan. Sesama mereka juga ada per­bedaan dan tingkatan tingkatan, baik dalam kejadian maupun dalam tugas, pangkat dan kedudukan. Allah menyebutkan bahwa ada malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat:

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Fathir 1).

Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melihat Jibril bersayap enam ratus: “Rasulullah SAW melihat Jibril ‘alaihis salam bersayap enam ratus” (HR. Muslim).

Perbedaan jumlah sayap tersebut bisa saja berarti perbedaan kedudukan, pangkat atau perbedaan kemampuan dan kecepatan dalam men­ja­lankan tugas. Sedangkan bagaimana bentuk sayap tersebut tentu saja kita tidak bisa mengetahuinya dan memang tidak perlu berusaha untuk menyelidikinya karena –seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya– malaikat adalah makhluk gaib (immaterial) yang hakikatnya hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya. (Sumber majalah Tabligh & Isnet)

Wallahu a’lamu bis-shawab.

“Neraka mempunyai tujuh pintu, untuk masing-masing pintu di huni (sekelompok pendosa yang ditentukan)” (Qs al Hijr :44)

Diriwayatkan dalam Anwar Nu'maniyah dan Biharul Anwar bahwa ketika Jibril turun membawa ayat di atas tadi, Nabi saw memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Jibril menjawab: "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya di dalam neraka ada tujuh pintu, jarak antara masing-masing pintu sejauh tujuh puluh tahun, dan setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain, nama-nama pintu tersebut adalah:

1. Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), pintu ini untuk kaum munafik dan kafir.

2. Jahim, pintu ini untuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah.

3. Pintu ketiga untuk kaum sabian (penyembah api).

4. Lazza, pintu ini untuk setan dan para pengikutnya serta para penyembah api.

5. Huthamah (menghancurkan hingga berkeping-keping), pintu ini untuk kaum Yahudi.

6. Sa'ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), pintu ini untuk kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Jibril terdiam. Nabi saww maminta Ia untuk menjelaskan pintu yang ketujuh, Jibril pun menjawab: "Pintu ini untuk umatmu yang angkuh"; yang mati tanpa menyesali dosa-dosa mereka.

Lalu, Nabi saww mengangkat kepalanya dan begitu sedih, sampai beliau pingsan. Ketika siuman beliau berkata: “Wahai jibril, sesunggguhnya engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk Neraka?"

Kemudian Nabi saww mulai menangis. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka?” Namun beliau tidak menjawab.

Saat itu, Imam Ali as sedang pergi melaksanakan satu misi, maka para sahabat pergi mengahadap sang wanita cahaya penghulu wanita syurga, Sayyidah Fathimah as, mereka mendatangi rumah suci beliau, dan pada saat itu Sayyidah Fatimah as sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (al-A'la:17). Para sahabat pun menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah saww). Setelah mendengar semua itu, Sayyidah Fatimah as bangkit lalu mengenakan jubahnya (cadur) yang memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma. Salman al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Sayyidah Fathimah as, lalu berkata: " Aduhai! Sementara putri-putri kaisar dan kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas, putri Nabi ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai”.

Ketika Sayyidah Fathimah as sampai di hadapan sang ayah, Ia melihat keadaannya yang menyedihkan dan juga keadaan para sahabatnya, kemudian ia berkata: "Wahai Ayahanda, Salman terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh dengan robekan, aku bersumpah, demi tuhan yang telah memilihmu menjadi Nabi, sejak lima tahun lalu kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah kami, pada waktu siang kami memberi makan unta-unta dan pada waktu malam kami beristirahat, anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma. Nabi berpaling ke arah Salman dan berkata "Apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?”

Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat -karena tangisan yang tidak terhenti- wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang di ceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah menjadi basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, “Mengapa Ayahanda menangis?” Nabi saww menjawab, "Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis?, karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab”.

Ketika Sayyidah Fathimah mendengar semua ini, beliau berseru, "Sesungguhnya orang yang dimasukkan kedalam api ini pasti menemui ajal". Setelah mengatakan ini beliau pingsan. Ketika siuman, beliau as berkata, "Wahai yang terbaik dari segala mahluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu?” Nabi saww menjawab, "Umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara sholat, dan azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainya.

Setelah mendengar ucapan ini setiap sahabat Nabi saww menangis dan meratap, "Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit". Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, "Aduhai seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini", Ammar bin Yasir berkata, "Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab”. Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu, Salman menjawab, "Celakalah engkau dan aku, sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di Neraka). Masihkah kita memandang remeh ancaman siksa neraka? Atau biarkan diri kita lalai dan sibuk dengan kesenangan dunia yang sementara ini?

"Sesungguhnya jin dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (Al Quran, surat Al A'raf : 27)

Makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.

Apakah Jin itu?
 
Jin dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Firman Allah, "Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."(QS. Al A'raf 27).

Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, "Setan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena adanya doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia."(HR Al Bukhari).

Asal kejadian Jin

Kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah berfirman, "Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al Hijr: 27). "Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api." (QS. Ar Rahman : 15).

Rasulullah bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum]." (HR Muslim dari Aisyah di dalam kitab Az- Zuhd dan Ahmad di dalam Al Musnad).

Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud "api yang sangat panas" (nar al-samum) atau "nyala api" (nar) dalam firman Allah di atas ialah "api murni". Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya "bara api", seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Mengubah bentuk

Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri. Salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (setan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika kaum Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi SAW di Makkah. Kedua, dalam Perang Badr pada tahun kedua Hijriah, seperti diungkapkan Allah di dalam surat Al Anfal: 48.

Apakah jin juga mati?

Jin beranakpinakdan berkembang biak. Allah memperingatkan manusia agar tidak terkecoh menjadikan iblis (yang berasal dari golongan jin) dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin sebab mereka telah mendurhakai perintah Allah (QS. Al Kahfi: 50).

Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi SAW berdoa: "Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna - Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati." (Bukhari: 7383, Muslim : 717)

Tempat-tempat Jin

Banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamaannya juga ada, di antaranya sama-sama menghuni bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian jin juga bisa tinggal bersama manusia di rumah manusia, tidur di ranjang dan makan bersama manusia. Tempat yang paling disenangi jin adalah WC, tempat manusia membuka aurat. Agar aurat kita terhalang dari pandangan jin ketika kita masuk ke dalam WC, hendaknya kita berdoa yang artinya, "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari (gangguan) setan laki-laki dan setan perempuan." (HR At-Turmudzi).

Setan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Quran sengaja tak menjelaskan secara rinci. Mungkin karena kuburan sering dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (paranormal). Nabi SAW melarang kita tidur menyerupai setan. Setan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian setan untuk mempermainkan auratnya.

Setan selalu mendampingi manusia

Sudah menjadi komitmen setan akan senantiasa menggoda manusia agar durhaka kepada Allah. Oleh karena itu setan terus menerus mengincar manusia, setiap saat menyertai manusia sehingga setan itu disebut pula sebagai qarin bagi manusia, artinya "yang menyertai" manusia. Setiap manusia disertai setan yang selalu memperdayakannya, bahkan manusia dan qarin-nya akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Allah berfirman, artinya: "Yang menyertai dia (qarin-nya) berkata (pula): "Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh." (QS. Qaf: 27)

Source : Swara Muslim

Saat Subuh ternyata adalah saat yang paling indah Allah ciptakan untuk manusia. Tapi, mengapa banyak muslim yang lalai dan malas bangun subuh dan shalat berjamaáh di masjid (untuk pria) ?
Bahkan ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan :
Bagaimana mungkin agama Allah (SWT) akan kokoh berdiri di atas muka bumi ini di tangan orang-orang yang melalaikan kewajibannya kepada Allah (SWT)??
Disini akan kami rangkumkan beberapa keistimewaan bersholat subuh jamaah di Masjid dengan istiqomah.
Inilah keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki Shalat Subuh :

1. PAHALA SHALAT SATU MALAM PENUH
Diriwayatkan Muslim dari Ustman Bin Affan ra. berkata, Rasulullah saw telah bersabda :

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِيْ جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِيْ جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلِ كُلَّهُ

Siapa yang shalat Isya’ berjamaah, seolah-olah bangun setengah malam (seperti shalat separuh malam). Siapa yang shalat Subuh berjamaah, maka bagaikan shalat semalam penuh.” (HR Muslim)

Mampukah Anda melaksanakan shalat malam satu malam penuh ?
Terkadang karena mengejar hikmah pahala satu kali waktu, muslim ikhlas mengerjakan dan mengejar malam lailatul Qadr hingga malam Lailatul Qadr seolah-olah adalah melebihi perkara yang FARDHU.

Mana yang lebih berat timbangannya di sisi Allah?
Ini bukan bermaksud untuk meremehkan nilai Malam Qadr. Saya memohon perlindungan Allah untuk hal ini. Malam Lailatul Qadr merupakan malam yang paling mulia dalam satu tahun dan juga lebih baik dari seribu bulan. Akan tetapi, tetap kedudukannya sebagai shalat sunnah dan tidak lebih utama daripada Shalat Wajib. Allah telah menjelaskan , wajib itu umumnya lebih utama dari yang sunnah. Allah menjelaskan dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda :

"Tidak ada amal yang dikerjakan hambaKu --dengan maksud untuk mendekatkan diri kepadaKu--yang lebih aku cintai selain ibadah wajib yang Aku perintahkan kepadanya. Dan HambaKu terus mendekatkan diri padaKu dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya"(HR. Al Bukhari).

Ada sebagian orang mengatakan bahwa doa malam Qadr akan dikabulkan. Itulah sebab banyak orang giat beribadah. BETUL SEKALI pendapat itu, akan tetapi apakah ini satu-satunya waktu yang dikabulkan Allah dalam satu tahun?
Sesungguhnya Allah memberikan kesempatan yang sama pada setiap saat dalam kehidupan Anda !!. Berikut Firman Allah yang menjelaskan :

وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضْلِهِ

dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. (QS. As-shura (42) ayat 26)

Kewajiban Anda Hanyalah berdoa, niscaya Allah akan mengabulkan semua permintaan anda.
Di setiap malam terdapat saat - saat terkabulnya doa. Kesempatan ini hanya diketahui orang-orang yang bangun sebelum subuh., walau hanya sebentar. Saat-saat yang mulia. Bahkan ia merupakan kesempatan yang mulia sepanjang masa.

2. SUMBER CAHAYA DI HARI KIAMAT

Peristiwa besar pada hari kiamat menjadikan mukmin diterangi sinar cahaya yang menolongnya. Rincian peristiwa ini dipaparkan Allah dalam Kalam Nya yang Mulia :

(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu'min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar".

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.

Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu'min) seraya berkata: "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali".(QS. Al Hadid (57) ayat 12 s/d 15 )

Darimanakah orang mukmin mendapat cahaya agung itu pada saat hari yang gelap dan menakutkan itu ?
Cahaya itu adalah amal-amal perbuatan mereka yang banyak ketika di dunia. Di antara amalan itu adalah : SHALAT SUBUH BERJAMAÁH.

Rasulullah SAW bersabda :
Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat"(HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah ).

Dalam kegelapan maksudnya Shalat Isya dan Shalat SUbuh.

Ini merupakan bantahan kepada sebagian muslim yang beranggapan bahwa shalat di rumah bersama istri dan anak lebih utama daripada di masjid. Karena Allah akan mengangkat derajat mereka (anak istri) agar memperoleh pahala jamaáh.

Namun Allah --yang membuat syariat dan Undang-undang -- membuat perintah muslim laki-laki untuk shalat di masjid dan memberi pahala yang sama pada perempuan yang shalat di rumah. Sedangkan pembiasaan anak untuk melaksanakan shalat jamaáh adalah dengan membawa mereka di masjid. Shalat di rumah hanya shalat sunnah, bukan shalat wajib (khusus pria mukmin).

3. SURGA YANG DIJANJIKAN

Diriwayatkan Abu Musa Al-Asyári bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin maka akan masuk surga"
(HR Al - Bukhari )

Dua waktu yang dingin adalah Subuh dan Ashar.

*** MELIHAT ALLAH

Jabir bin Abdullah al-Bajalli berkata, “Kami berada di samping Nabi saw. pada suatu malam, maka Nabi melihat bulan purnama sambil berkata,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَتَضَامُّوْنَ فِيْ رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْـتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا

“Kalian akan melihat Tuhan sebagaimana kalian melihat bulan ini, tidak silau karena melihatnya. Maka sebisa mungkin, jangan sampai dikalahkan untuk shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan sebelum terbenamnya (Ashar). Cepatlah kamu kerjakan!” (HR Bukhari dan Muslim)

Subhanalloh, kebaikan ini terdapat dalam Shalat Subuh, Bila Anda tahu sebagian orang islam yang mendengar kebaikan itu, kemudian tetap tidak bergerak untuk Shalat SUbuh, apa yang anda katakan pada mereka?

BUKANKAH INI BENAR-BENAR SUATU KEBODOHAN DAN KELALAIAN ?

*** SIKSA PEDIH BAGI YANG MELALAIKAN SHALAT SUBUH

Samurah bin Jundab ra. meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bermimpi. Dalam mimpi ini, Rasulullah diperlihatkan adzab bagi orang berdosa dari orang muslim.

"Sesungguhnya telah datang kepadaku tadi malam dua tamu (Malaikat Jibril dan Mikail). Keduanya diutus kepadaku dan berkata "BERANGKATLAH". lalu saya pun pergi bersama mereka. Kami mendatangi orang yang sedang tidur dan lainnya berdiri tegak di atasnya membawa batu. Lalu tiba-tiba batu dilepaskan pada orang itu hingga hancur luluh kepalanya. Kemudian dia ambil kembali dan mengulanginya kembali saat kepala pulih kembali., lalu akan diulangi sebagaimana yang dilakukan pertama kali baginya. Rasulullah saw bertanya : "Subhanallah..apa ini?"Mereka berdua berkata :"Lanjutkan perjalanan...lanjutkan perjalanan.."(HR AL BUKHARI)

Begitu banyak persitiwa yang dialami beliau, tapi secara ringkas, kedua Malaikat tadi menjelaskan bahwa :
"Orang pertama yang telah Anda datangi tadi, yang memecahkan kepalanya dengan batu, ialah orang yang membawa Al Qurán namun mencampakkannya dengan begitu saja, dan tidur saat shalat wajib"..

**SHALAT SUNNAH QOBLIYAH SUBUH ADALAH SHALAT SUNNAH LEBIH MULIA DARIPADA DUNIA SEISINYA

Di antaranya Rasulullah SAW bersabda --yang diriwayatkan oleh Aisyah :

رَكْعَتَا اْلفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

"Dua Rakaat Fajar (shalat Sunnah sebelum subuh) lebih baik dari dunia se-isinya (HR MUSLIM, TIRMIDZI DAN AHMAD)

Ini baru shalat Sunnah nya..lalu bagaimana dengan dua rakaat fajar yang wajib?

Subhanalloh...Nilai yang sangat besar dan bukan disebabkan berdirinya lama atau panjangnya bacaan dalam dua rakaat ini. Bahkan Rasulullah saw pernah dan sering memendekkan bacaannya dalam shalat dua rakaat sebelum subuh ini.

Maka orang yang mampu meninggalkan dunia dan bangun sebelum waktu subuh kemudian menunaikan shalat fajar , dialah orang sukses dalam ujian. Sebagaimana ia tinggalkan dunia dan segala isinya untuk menunaikan shalat, maka ALlah memberikan pahala yang lebih besar untuk itu semua.

wahai pencari potongan dunia, bagaimana anda terlena dari sesuatu yang lebih baik dari dunia dan seisinya?

***PERLAKUAN KHUSUS KEPADA SHALAT SUBUH

Pertama, Shalat SUbuh merupakan Shalat yang pertama kali diwajibkan atas kaum muslimin disamping shalat Ashar

Kedua, Adzan Subuh berbeda dengan Adzan shalat fardhu lainnya yang empat.

Ketiga , Rasulullah memberikan doa khusus setelah shalat subuh yang berbeda dengan shalat lain.
(bacaan- doa khusus ini setelah wirid penutup shalat yang diwasiatkan Rasulullah seperti Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x, Astaghfirullah maka ditambahkan doa seperti :

La Illaha Illallah wahdahu la syarika lahu. Lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wahuwa ala kulli syaiin Qadiir..

Sebanyak 10 kali, ditulisnya 10 kali kebaikan, dihapus 10x kesalahan, diangkat 10kali derajatnya. Satu hari penuh ia terlindungi dari sesuatu yang tidak disukai , terlindungi dari setan, tidak ada dosa yang mencelakainya, kecuali syirik (HR.Tirmidzi, hasan shahih)

***LATIHAN HARIAN BAGI RUHANI

Dengan Shalat Subuh berjamaah di masjid tepat waktu menjadikan muslim berhati-hati dan disiplin atas ruhaninya agar bisa menjaga waktu subuhnya dan bisa istiqomah.

***PENGHAPUS DOSA SETENGAH USIA

Coba perhatikan hadits berikut ini :

Seorang muslim yang apabila datang waktu shalat wajib, menyempurnakan wudhu, kekhusukan dan ruku nya maka perbuatan nya tsb menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar dan itu sepanjang masa (HR. MUSLIM)

Masa antara Isya dan Subuh adalah masa terlama dibanding shalat-shalat lain., yaitu malam secara keseluruhan. Dengan demikian Shalat SUbuh menjadi penghapus dosa setengah hari dan shalat-shalat lain menjadi penghapus separuh harinya lagi. Itu berarti Shalat Subuh menjadi penghapus dosa setengah umur bagi yang selalu menunaikannya. Dan itu terjadi jika menjauhi dosa-dosa besar.

Alangkah indahnya Shalat Subuh Berjamaah di Masjid ....

Umar bin Khattab adalah khalifah kedua, dan mungkin terbesar dari semua khalifah Islam. Dia sejaman namun lebih berusia muda ketimbang Nabi Muhammad. Dan seperti juga Muhammad, dia kelahiran Mekkah. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi menurut taksiran tahun-586.

Asal-muasalnya `Umar bin Khattab merupakan musuh yang paling ganas dan beringas, menentang Muhammad dan Agama Islam habis-habisan. Tetapi, mendadak dia memeluk agama baru itu dan berbalik menjadi pendukung gigih. Umar Ibn al-Khattab selanjutnya menjadi penasihat terdekat Nabi Muhammad dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Muhammad.

Tahun 632 Muhammad wafat, tanpa menunjuk penggantinya. Umar dengan cepat mendukung Abu Bakar sebagai pengganti, seorang kawan dekat Nabi dan juga mertua beliau. Langkah ini mencegah ada kekuatan dan memungkinkan Abu Bakar secara umum diakui sebagai khalifah pertama, semacam "pengganti" Nabi Muhammad. Abu Bakar merupakan pemimpin yang berhasil tetapi beliau wafat sesudah jadi khalifah hanya selama dua tahun. Tetapi, Abu Bakar menunjuk `Umar jadi khalifah tahun 634 dan memegang kekuasaan hingga tahun 644 tatkala dia terbunuh di Madinah oleh perbuatan seorang budak Persia. Di atas tempat tidur menjelang wafatnya, `Umar menunjuk sebuah panita terdiri dari enam orang untuk memilih penggantinya. Dengan demikian lagi-lagi kesempatan adu kekuatan untuk kekuasaan terjauh. Panitia enam orang itu menunjuk `Usman selaku khalifah ke-3 yang memerintah tahun 644-656.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun `Umar itulah penaklukan-penaklukan penting dilakukan orang Arab. Tak lama sesudah `Umar pegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Arab terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum `Umar naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Arab terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan `Umar. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Arab. Dan bukan cuma itu: pasukan Arab bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642) mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya `Umar di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala `Umar wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Sama pentingnya dengan makna penaklukan-penaklukan yang dilakukan `Umar adalah kepermanenan dan kemantapan pemerintahannya. Iran, kendati penduduknya masuk Islam, berbarengan dengan itu mereka memperoleh kemerdekaannya dari pemerintahan Arab. Tetapi Suriah, Irak dan Mesir tidak pernah peroleh hal serupa. Negeri-negeri itu seluruhnya di-Arabkan hingga saat kini.

`Umar sudah barangtentu punya rencana apa yang harus dilakukannya terhadap daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh pasukan Arab. Dia memutuskan, orang Arab punya hak-hak istimewa dalam segi militer di daerah-daerah taklukan, mereka harus berdiam di kota-kota tertentu yang ditentukan untuk itu, terpisah dari penduduk setempat. Penduduk setempat harus bayar pajak kepada penakluk Muslimin (umumnya Arab), tetapi mereka dibiarkan hidup dengan aman dan tenteram. Khususnya, mereka tidak dipaksa memeluk Agama Islam. Dari hal itu sudahlah jelas bahwa penaklukan Arab lebih bersifat perang penaklukan nasionalis daripada suatu perang suci meskipun aspek agama bukannya tidak memainkan peranan.

Keberhasilan `Umar betul-betul mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan sekarang ini. Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukkan dibawah pemerintahannya tetap menjadi Arab hingga kini. Jelas, tentu saja, Muhammadlah penggerak utamanya jika dia harus menerima penghargaan terhadap perkembangan ini. Tetapi, akan merupakan kekeliruan berat apabila kita mengecilkan saham peranan penting`Umar bin Khattab dalam meraih kejayaan Islam. Penaklukan-penaklukan yang dilakukannya bukanlah akibat otomatis dari inspirasi yang diberikan Muhammad. Perluasan mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah akan sampai sebesar itu kalau saja tanpa kepemimpinan `Umar yang brilian.
Wassalam
Ladewa's Library

Tulisan ini berawal dari sebuah kejadian dimana ada seorang istri  meminta dibelikan televisi kepada suaminya tetapi sang suami tidak menyukainya karena merasa televisi tidak membawa manfaat tetapi hanya mendatangkan keburukan. Nah dari sinilah saya mencari-cari penjelasan mengenai masalah ini dari banyak sumber, dan inilah salah satu jawaban yang saya dapatkan.

Pesawat televisi itu sendiri tidak bisa dikatakan haram, dan tidak pula makruh dan tidak pula boleh. Karena ia adalah benda yang tidak berbuat apapun. Sesungguhnya hukumnya sangat tergantung dengan perbuatan hamba, bukan dengan dzat sesuatu. Maka membuat televisi dan menjadikannya (sebagai alat) untuk menyebarkan hadits atau program sosial yang baik, hukumnya boleh. Jika yang ditampilkan adalah gambar-gambar yang menggiurkan lagi membangkitkan syahwat, seperti gambar-gambar wanita telanjang, gambar laki-laki yang menyerupai perempuan dan yang sama pengertian dengan hal tersebut. Atau yang didengar adalah yang diharamkan, seperti lagu-lagu cabul, kata-kata yang tidak bermoral, suara para artis kendati dengan lagu-lagu yang tidak cabul. Nanyian laki-laki yang melembutkan suara dalam nyanyian mereka, atau menyerupai wanita padanya, maka ia diharamkan.

Dan inilah kebiasaan dalam penggunaan televisi di masa sekarang, karena kuatnya kecenderungan manusia kepada hiburan dan kekuasaan hawa nafsu atas jiwa kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sangat sedikit sekali.

Sebagai kesimpulan : Duduk di depan televisi atau mendengarkannya atau melihat acaranya, selalu mengikuti dalam penentuan hukum halal dan haram dari apa yang dilihat atau yang didengar. Terkadang sesuatu yang diperbolehkan untuk didengar dan untuk duduk di depannya menjadi dilarang karena faktor menyia-nyiakan waktu senggang dan berlebihan padanya, yang kadang kala manusia sangat membutuhkan kesibukan yang bermanfaat untuk dirinya, keluarganya dan umatnya dengan manfaat yang merata dan kebaikan yang banyak. Wajib bagi setiap muslim menurut agama, untuk tidak membelinya, mendengarkannya dan melihat yang ditayangkan di dalamnya ; karena merupakan sarana kepada mendengarkan dan melihat yang diharamkan.

Semoga rahmat dan kesejahteraan Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya, dan kita semua bisa mengambil pelajaran dari tulisan-tulisan di blog ini.

[Disalin oleh Ladewa dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]

Bagi seorang yang ingin mengetahui kesesatan sebuah paham atau kelompok hendaknya dia mengetahui terlebih dahulu mana pemahaman yang benar dan mana pemahaman yang salah. Banyak kita saksikan seseorang kebingungan bila dia mendengar atau membaca pernyataan bahwa : Ini adalah pemahaman yang sesat dan itu adalah pemahaman yang menyeleweng! Mengapa dia bingung. Hal itu terjadi tidak lain karena dia belum mengetahui perkara yang benar dan yang salah. Kebingungan ini tidak hanya melanda orang awam saja. Akan tetapi para pelajar, mahasiswa, dan kalangan intelek pun mengalami hal yang sama. Untuk itu sudah seharusnya seorang itu terlebih dahulu mengetahui kebenaran sehingga bila diajak berbicara tentang firqah-firqah sesat semacam syi’ah, mu’tazilah, jahmiyah, dan lain-lainnya tidak akan merasa heran. Begitu juga berkaitan dengan tema yang akan kita angkat kali ini tentang jamaah tabligh. Sudah semestinya seorang Muslim mempelajari kebenaran yang terdapat pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan bagaimana sikapnya terhadap jamaah ini. Berpenampilan zuhud. Berjalan ke sana kemari. Bergerombol. Ada yang menenteng kompor. Ada yang berjalan telanjang kaki. Mengajak orang-orang ke masjid. Mereka jama’ah (firqah) Tabligh. Ada apa lagi dengan mereka? Tidakkah cukup satu edisi membicarakan tentang mereka? Tidakkah merasa bosan? Apakah orang yang berdakwah, mengajak ke masjid dan rajin beribadah itu dikatakan sesat? Beranikah engkau menyatakan mereka sebagai orang yang sesat?! Itulah permasalahannya! Apakah kita tega untuk menyatakan sesat orang yang memang telah dikatakan sesat oleh para ulama kaum muslimin?! Apakah kita tetap lebih mendahulukan perasaan kita daripada ilmu yang menerangkan siapa mereka sebenarnya di balik baju kezuhudannya?! Apakah kita ragu mengatakan sesat orang yang memang sesat tetapi menutupi kesesatannya dengan berpura-pura zuhud??
Apakah kita ragu untuk membela agama Allah dari kerusakan yang mereka lakukan melalui baju tadi? Ataukah kita malah menyalahkan orang yang menerangkan tentang kesesatan mereka? Di edisi ini kita akan menambah ilmu tentang kesesatan mereka, bukan untuk mengikuti mereka. Tapi untuk berhati-hati. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:

Aku mengetahui kejelekan bukan untuk mengikutinya.
Akan tetapi untuk berhati-hati!
Karena siapa yang tidak mengetahui kejahatan,
dia akan terperosok ke dalamnya.

Setelah Anda mempelajari ‘aqidah ahlus sunnah yang benar, akan tampak kesalahan besar yang mereka lakukan. Kalau anda belum mempelajarinya, maka anda akan menganggapnya enteng dan biasa-biasa saja.
Anda yang penasaran dengan seluk beluk dan segala yang berhubungan dengan JAMAAH TABLIGH silahkan baca penjelasan lengkapnya dengan mendownload gratis ebooknya disini.

Penamaan shufi tidak ditemukan secara pasti, dari kata apa asalnya. Ada perbedaan-perbedaan pendapat mengenai asal kata shufi ataupun tasawuf. Ibnu Taimiyah menyebutkan sebagian perbe¬daan-perbedaan yang ada sebagai berikut.
Dikatakan bahwa lafal shufi itu dinisbatkan (disandarkan) kepada ahli shofah (penghuni lorong dekat masjid Nabi). Ini tidak benar, karena kalau demikian maka pasti disebut shofiy. Ada pula yang berpendapat, shufi itu dinisbatkan kepada shof depan di hadapan Allah. Ini pun salah, karena namanya jadi shofiy juga.Konon ada yang menisbatkan shufi kepada Shufah bin Basyar bin Thanjah, satu kabilah dari Bangsa Arab, mereka bertetangga dengan Makkah dari zaman dahulu kala. Dinisbatkanlah orang-orang ahli ibadah (nassak) kepada mereka. Ini, walaupun sesuai untuk penisbatan dari segi lafal yaitu tepat jadi "shufi" namanya, namun penisbatan ini lemah juga. Karena mereka itu tidak terkenal dan tidak populer bagi kebanyakan ahli ibadah. Dan seandainya ahli ibadah itu dinisbatkan kepada mereka maka pastilah penisba-tan ini sudah ada pada zaman sahabat dan tabi'in serta para pengikut mereka yang pertama. Dan lagi pada umumnya orang-orang yang berbicara mengenai nama shufi itu tidak mengetahui kabilah ini, dan tidak suka kalau dinisbatkan kepada kabilah yang ada di zaman jahiliyah dan tidak ada di zaman Islam. Dan dikatakan --ini terkenal-- bahwa shufi itu dinisbatkan kepada pakaian as-shuf/ bulu domba/ wool. (Majmu' Al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah 11/6 dan lihat 10/510 -20/150, As-Sufiyah `Aqidah wa Ahdaf oleh Laila binti `Abdillah, Darul Wathan, Riyadh, cet I, hal 1410H, hal 10-11). Asal kata shufi dari pakaian shuf (bulu domba) ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, karena kenyataan yang ada pada masa Ibnu Taimiyah adalah mereka memakai pakaian kasar (bulu domba), seba¬gai pengakuan untuk zuhud (menahan diri dengan tidak cinta dunia), dan menampakkan kesederhanaan dan kemelaratan hidup di samping menahan diri dari berhubungan dan minta-minta pada orang, dan mencegah diri dari air dingin dan makan daging. Demikian pula mereka meninggalkan nikah. Sehingga perbuatan mereka tidak sesuai dengan zuhud (tidak serakah) yang disyari'atkan. Nabi SAW telah mengingkari orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan mencegah diri dari makan daging atau nikah. seperti Hadits yang telah datang dalam kitab Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Anas bin Malik, ia berkata:
"Ada satu kelompok sahabat yang datang ke rumah Nabi saw untuk menanyakan kepada isteri-isteri beliau tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberitahu keadaan ibadah beliau, seolah-olah mereka menganggap ibadah itu masih terlalu sedikit. Kemudian mereka berkata-kata satu sama lain, lalu mereka bertanya, di mana posisi kita dibandingkan dengan Rasulullah saw padahal Allah telah mengampuni dosa beliau, baik yang terdahulu maupun yang akan datang? Lalu salah seorang dari mereka berkata: "Saya akan puasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka." Yang kedua menga¬takan: "Saya akan bangun (shalat) malam dan tidak tidur." Yang ketiga berkata: "Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan kawin selama-lamanya." Lalu Rasulullah saw datang kepada mereka seraya bersabda:
"Kamukah yang telah berkata begini dan begitu tadi? Ketahui¬lah, demi Allah, akulah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan yang paling bertaqwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan kawin dengan perem¬puan. Maka barangsiap yang membenci sunnahku bukanlah ia dari golonganku." (HR Bukhari dan lainnya).
Ibnu Taimiyah dalam menguatkan shuf (bulu domba) sebagai sebab penamaan shufi adalah karena mereka terkenal dengan pakaian shuf (bulu). Itu hanyalah menyebutkan gejala mereka pada masa itu dan sebelumnya, yaitu pakaian shuf untuk menampakkan zuhud. Tetapi ada pendapat lain tentang penamaan itu menunjukkan sebagian pemikiran mereka, yaitu pemikiran yang kembali kepada pemikiran-pemikiran kuno seperti yang disebutkan oleh Al-Biruni Abu Ar-Rahyan yang menisbatkan tasawuf kepada kata "Sofia" Yunani yaitu hikmah (filsafat), mengingat karena saling dekatnya pendapat-pendapat antara pendapat orang-orang shufi dengan para filosof Yunani kuno. (al- Tasawuf al mansya' wal mashadir, oleh Ihsan Ilahi Dhahir, hal 33-34).
Tasawuf itu adalah kasus yang lebih berbahaya ketimbang seka¬dar pakaian kasar, bahkan merupakan pemikiran-pemikiran buatan para filosof yang masuk ikut campur dalam Islam padahal sebenar¬nya jauh dari Islam, tetapi disampuli dengan cover yang menimbul¬kan pengelabuan bahwa tasawuf itu termasuk dalam Islam. (As-Shufiyyah `aqidah wa ahdaf, hal 12).


PENGERTIAN BID’AH
Bid’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya.(1) Ini bisa dilihat dalam firman Allah:
“Allah-lah Pencipta langit dan bumi”.(QS Al Baqarah 117).
Maksudnya, Allah yang menciptakan langit dan bumi, tanpa didahului suatu contoh apapun.
Bid’ah menurut syara’, sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyah Rahimahullah: Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi atau menyimpang dari Al-Qur’an atau As-Sunnah dan ijma’ salaful ummah, baik i’tiqadat (sesuatu yang harus diyakini) maupun ibadah (sesuatu yang harus diamalkan).(2)
Imam Syatibi dalam kitab “Al-I’tisham” menjelaskan bahwa bid’ah adalah mengadakan cara agama yang dibikin-bikin, yang diadakan (oleh manusia), yang menyerupai syariah. Dan yang dimaksud dengan perilaku tersebut adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.(3)
Bid’ah itu ada dua: menyangkut keduniaan dan menyangkut agama. Bid’ah (penciptaan) yang mengenai keduniaan itu boleh, selama tidak bertentangan dengan Islam. Misalnya mengadakan pembangunan, menciptakan teknologi baru dsb. Adapun bid’ah yang menyangkut agama itu haram, tidak dibolehkan. Karena, agama itu harus berdasarkan wahyu dari Allah SWT. Manusia tidak berhak membuat syari’at (peraturan agama). Itu hanya hak Allah SWT. Maka membuat bid’ah dalam agama itu melanggar hak Allah SWT. Hingga Nabi Muhammad SAW menegaskan:
“Wa iyyaakum wa muhdatsaatil umuuri fainna kulla muhdatsatin bid’atun wa kulla bid’atin dholaalah.”
“Dan jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu daud dan At-Tirmidzi, dia berkata Hadits hasan shahih).
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Barangsiapa mengada-adakan pada perkara kami ini, sesuatu yang bukan darinya, maka itu adalah tertolak”.(HR Bukhari dan Muslim).
Dan pada riwayat lain:
Artinya: “Barangsiapa melakukan amalan, bukan atas perintah kami, maka amalan itu tertolak”.(HR Muslim).(4)
Macam-macam Bid’ah
Bid’ah dalam agama ada dua macam, yaitu: Pertama, Bid’ah Qauliyah I’tiqadiyah (Bid’ah ucapan atau perkataan yang bersifat keyakinan), seperti perkataan-perkataan Jahmiyah dan Mu’tazilah dan Rafidhah dan seluruh kelompok yang sesat aqidahnya.(5) Dan kedua, Bid’ah pada ibada-ibadah seperti beribadah karena Allah dengan cara-cara yang tidak disyariatkan.(5)
Dan macam-macam bid’ah pada ibadah yang bersifat amalan, ada beberapa macam, yaitu:
Pertama, Bid’ah berupa ibadah yang tidak pernah ada asalnya dalam Islam, yaitu membuat-buat atau mengada-adakan amalan ibadah yang tidak ada dasarnya pada syara’. Seperti mengada-adakan shalat bikinan yang memang tidak disyariatkan, atau puasa bikinan yang memang tidak ada tuntunannya, atau hari raya (A’yad) yang memang tidak dituntunkan /tidak disyariatkan. Misalnya, mengadakan perayaan maulid dan yang semacamnya.
Kedua, Bid’ah berupa menambahkan sesuatu atas ibadah yang sudah ada asalnya dalam syari’at Islam. Misalnya, menambah raka’at jadi lima pada shalat Dhuhur atau pada shalat Ashar.
Ketiga, Bid’ah berupa mengerjakan ibadah yang telah disyari’atkan tetapi dengan cara yang tidak ada dasarnya dari syari’at Islam. Misalnya melakukan dzikir-dzikir yang disyariatkan tetapi dengan dibikin cara: bersama-sama dan disertai rebana, dan dibikin cara: dengan suara yang keras. Dan misalnya pula, memaksakan diri dalam beribadah , sampai keluar dari batas sunnah Rasulullah SAW.
Keempat, Bid’ah berupa mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk mengerjakan ibadah yang disyari’atkan, padahal tidak ada pengkhususan dari syari’at Islam. Misalnya mengkhususkan hari dan malam nshfu Sya’ban dengan puasa dan shalat malam. Padahal shiyam dan qiyam disyariatkan tetapi mengkhususkan pada waktu-waktu tertentu, diperlukan dalil.(5)
Bid’ah hakikiyah dan idhafiyah
Imam Syatibi membagi bid’ah menjadi dua, ditinjau dari segi adanya dalil yang dijadikan sandaran dalam beramal atau tidak adanya dalil. Pertama, bid’ah hakikiyah, dan kedua bid’ah idhafiyyah.(6)
Pertama, bid’ah hakikiyah adalah suatu bid’ah yang sama sekali tidak didasarkan pada suatu pengertian dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, bahkan lebih bersifat melawan atau menyelisihi ketentuan dalil yang ada. Tegasnya, dalil yang dijadikan dasar atau sandaran dalam melakukan amalan bid’ah tersebut tidak ada.
Contoh bid’ah hakikiyah diantaranya :
a. Mengerjakan hal-hal yang menyiksa diri, tanpa ada dalil yang memerintahkannya.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abas, ia berkata: Ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkhutbah, tiba-tiba ada seseorang berdiri, maka Rasulullah bertanya tentang dia, lalu mereka (para pendengar khutbah) menjawab: “Abu Israil, dia telah bernadhar untuk tetap berdiri, tidak duduk ,dan tidak berteduh; tidak berbicara, dan berpuasa.” Maka Rasulullah bersabda: “Kamu sekalian perintahkan kepadanya, hendaklah dia berbicara, berteduh dan duduk, dan supaya menyempurnakan puasanya”.(7)
b. Adanya pemotongan kepala kerbau yang kemudian ditanam pada lubang galian tanah, sebagai tumbal.
c. Melakukan pecah telur bagi penganten yang sedang dipertemukan, karena adanya kepercayaan tertentu, sebagaimana yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat.
d. Melakukan terobosan di bawah keranda (mayat) bagi ahli waris, sewaktu mayat sudah siap akan diberangkatkan ke pemakaman.
e. Mengadakan peringatan kematian, misalnya tiga hari, empat puluh hari, seratus hari, haul/ temu tahun, seribu hari dan seterusnya, yang itu semua tidak ada dalilnya, bahkan bertentangan dengan dalil, dan menirukan adat orang musyrik.
f. Minta do’a pada isi kubur. Ini bertentangan dengan dalil yang tidak pernah membolehkan mayat dijadikan sarana untuk berdo’a.
Disamping itu masaih ada berbagai acara lain yang termasuk bid’ah, karena sama sekali tidak ada dalam Islam.
Kedua, Bid’ah Idhafiyyah adalah suatu bid’ah yang pada hakekatnya didasarkan pada dalil Al Qur’an atau As Sunnah, tetapi cara melakukan amalan yang diamalkan dengan dalil yang dimaksud, tidak didapatkan di dalam ajaran Islam. Contoh bid’ah idhafiyyah adalah :
a. Sebagai pernyataan taubat atas segala dosa, disebutlah kalimat “La ilaha illa Allah” dengan cara geleng-geleng kepala seperti melakukan tarian. Dalam hal taubat itu, gendang dan perlengkapannya dibunyikan. Bentuk semacam ini dilakukan oleh seseorang dengan seriusnya untuk beberapa lama sampai orang tersebut jatuh pingsan. Di saat itu taubat baru dihentikan, karena dianggap orang tersebut telah diterima taubatnya.
b. Di beberapa masjid atau surau, setelah selesai seorang muadzin adzan, diadakanlah apa yang disebut “puji-pujian”. Dalam pujian-pujian tersebut banyak dibacakan shalawat Nabi, di samping berbagai bacaan lain, baik yang diambil dari Al Qur’an maupun syair-syair. Hal tersebut dilagukan dengan suara keras, selain sebagai pengertian ibadah juga untuk menanti kedatangan imam. Yang demikian itu banyak dijumpai, sementara tuntunan dari Rasulullah yang demikian tidak ada.
c. Contoh adanya penentuan dan penertiban beberapa bacaan yang dilakukan dalam selamatan atas kematian seseorang atau lainnya pada pengertian yang bisa disebut dengan “tahlilan”. Penentuan yang dimaksud dalam hal ini, selain dari penentuan waktu, seperti pada hari ke 7, ke 40, ke 100, ke 1000 dst, juga penentuan bacaan. Baik jumlah bilangannya, juga penentuan penertibannya. Namun keterangan Al Qur’an dan As Sunnah bahwa hal itu untuk amalan sebagaimana dilakukan itu tidak didapatkan.
Hukum Bid’ah pada agama dengan segala macamnya (8)
Semua bid’ah pada agama, hukumnya haram dan sesat. karena sabda Rasulullah SAW:
“Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang diada-adakan, maka sesungguhnya tiap-tiap yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat”.(HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Dan sabda Nabi SAW:
Artinya: “Barangsiapa yang mengada-adakan pada perkara kami ini, sesuatu yang bukan perkara dari kami, maka itu adalah tertolak”. Dan dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang mengamalkan amalan bukan atas perkara kami, maka yang demikian itu tertolak”.
Hadits itu menunjukkan bahwa tiap-tiap sesuatu yang diada-adakan pada agama, maka itu adalah bid’ah dan tiap-tiap bid’ah adalah sesat dan tertolak. Dan makna yang demikian, sesungguhnya bid’ah pada ibadah dan i’tiqad , yang itu semua sudah jelas diharamkannya. Akan tetapi pengharamannya bertingkat-tingkat, sesuai dengan macam bid’ahnya.Dianataranya ada yang hukumnya kufur dengan jelas, seperti: thowaf (keliling) pada kubur dalam bertaqarrub (mendekatkan diri pada Allah), atau mempersembahkan sembelihan dan nadhar untuk kubur. Dan di antaranya termasuk sarana wasail syirik. Seperti membangun bangunan di atas kubur, serta shalat dan berdoa di kuburan. Dan di antaranya ada yang fisqu i’tiqadi (keluar dari ketaatan secara keyakinan), seperti bid’ah khawarij (aliran ekstrim dalam memahami agama, sehingga dosa besar dianggap kafir dsb), qadariyah (menolak qadha dan qadar Allah dalam setiap usaha manusia) dan murji’ah (aliran yang mengkemudiankan, yaitu mengkemudiankan amal daripada iman, yang dipentingkan adalah iman, sedang yang lainnya adalah soal kedua. Amal menurut mereka bukan bagian esensi dari iman, walau tetap diperlukan) pada perkataan-perkataan mereka pada i’tiqadinya yang menyimpang terhadap dalil-dalil syar’i. Dan di antara bid’ah yang termasuk maksiat seperti bid’ah siyam (puasa) dalam keadaan berdiri pada panas matahari, dan kebiri dengan maksud memutus syahwat jima’ (bersetubuh).(9)
Demikianlah pengertian bid’ah, jenis-jenis dan hukumnya. Semua itu wajib dihindari, agar kita terbebas dari kesesatan. (10).
Catatan:
1. Tanbih Ulil Abshar Ila kamaliddin wa maa fil bida’ minal Akhthor, Dr Shalih bin Sa’id As-Suhaimi, hal 84.
2. Majmu’ Al-fatawa li Ibn Taimiyyah (18/346).
3. Al-Bid’ah, ta’rifuha, ahwa`uha, ahkamuha, Syaikh Shalih bin fauzan, hal 5.
5. Tanbih Ulil Abshar ila kamaliddin wamaa fil bida` minal akhthar, Dr Shalih bin Sa`d As Suhaimi, hal 100.
6. Ibid hal 93
7. Shahih al-Bukhari ma’al Fath (11/586), Musnad Al-Imam Ahmad (4/168).
8. Al-Bid’ah, ta`rifuha, ahwa`uha, Syaikh Shalih bin Fauzan, hal 7
9. Lihat Al-I`tisham, As-Syatibi (2/37).
10. Tulisan ini dimodifikasi dari tulisan tangan seorang da’i yang tak menyebutkan namanya, namun isinya bisa dipertanggung jawabkan dan insya Allah bermanfaat.


Islam menjadi sasaran perusakan yang dilakukan orang dengan berbagai cara. Ada yang mendirikan lembaga pendidikan/ pengkajian tetapi tujuannya demi pendangkalan Islam atau tasykik (membuat keragu-raguan).
Ada yang mengkutak-kutik istilah Islam yang sudah baku untuk diselewengkan maknanya.
Contohnya, istilah "hamba Allah yang sholeh" itu dalam Islam adalah orang yang beriman. Dan istilah itu ada riwayatnya jelas, As-Suddi (ulama besar ahli tafsir masa tabi'in) menjelaskan makna hamba Allah yang sholeh itu adalah orang-orang mukmin. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 halaman 245 dalam menafsiri QS Al-An-Biyaa'/ 21: 105). Namun istilah yang sudah mapan itu oleh Dr Ir Imaduddin Abdul Rahiem tiba-tiba mau dirubah, bahwa hamba Allah yang sholeh itu tidak mesti beriman. Hingga dia katakan, Presiden Amerika, Bill Clinton, --yang kelak ramai dibicarakan orang sedunia karena skandal seksnya dengan sekretaris kepresidenan, Monica Lewinsky- itu oleh Dr Ir Imaduddin Abdul Rahiem (sebelumnya telah) dianggap sebagai hamba Allah yang sholeh, bahkan dia sebut sebagai Khalifatullah fil ardh (Khalifah/ pengganti atau wakil Allah di bumi). Padahal menurut Islam, orang yang sholeh itu syarat utamanya adalah iman. Sedang Muslimin terpilih bahkan terbaik setelah Nabi Muhammad saw yaitu Abu Bakar As-Shiddiq saja pangkatnya hanya khalifah Nabi, namun Clinton yang non Muslim dan kelak heboh skandal seksnya itu telah dinyatakan oleh Imaduddin sebagai hamba Allah yang sholeh dan khalifah Allah. Pernyataan Imaduddin itu dia kaitkan dengan Al-Qur'an S Al-Anbiyaa'/ 21:105
"Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfudh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh.(Al-Anbiyaa'/ 21:105).
Keruan saja pernyataan Imaduddin yang dimaksudkan sebagai penafsiran Al-Quran itu menjadi ramai ketika dia kemukakan dalam pidatonya saat ia menyajikan makalah di dalam "Seminar Internasional VI Mukjizat Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang Iptek", yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) dan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), 29 Agustus - 1 September 1994, di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) Bandung. Sampai-sampai, Dr Al-Muslih dari Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) Makkah, ketua penyelenggara seminar internasional yang sudah berpengalaman di berbagai negeri dalam menyelenggarakan acara yang sama di hadapan para cendekiawan Islam sedunia, saat itu meminta waktu seketika, dan mengemukakan bahwa seminar internasional semacam ini telah diselenggarakan selama 6 kali, namun baru di Indonesia ini makalah-makalah yang tidak bermutu bisa ditampilkan. Saat itu Dr HM Quraish Shihab selaku pembawa acara tampak klimpungan, lalu ingin membela diri (rekannya sebangsa, Indonesia) bahwa pihaknya telah berupaya keras untuk menampilkan makalah-makalah yang bagus, dan ini telah diusahakan dari sekian banyak, hanya beberapa makalah yang bisa diloloskan untuk tampil dalam forum internasional ini.
Ungkapan Quraish Shihab itu justru bermakna terbalik. Maunya membela rekannya sebangsa, namun justru terperosok, dan secara tidak langsung sama dengan mengatakan, yang sudah dianggap bagus saja seperti itu mutunya, apalagi yang tidak lolos. Maka suasana seminar pun kacau, ramai sekali, akhirnya dibubarkan sementara alias istirahat sementara. Sedang para peserta saling berbantah-bantahan satu sama lain. Tampak KH Sa'id Hilaby (almarhum, Ulama Al-Irsyad) ingin meleraikan para ilmuwan Islam sedunia yang sedang ribut itu di waktu "istirahat-terpaksa" itu. Namun tetap saja suara-suara nada protes terhadap pendapat Imaduddin itu bermunculan secara gaduh, hanya saja bukan dalam suasana sidang, karena memang sidangnya diskors sementara. Pakar-pakar tafsir Al-Qur'an seperti Dr Ahsin Muhammad Asyrofuddin alumni Saudi Arabia ketika saya wawancarai, beliau mengemukakan belum pernah mendengar ulasan seperti yang dikemukakan Imaduddin itu. Sementara itu Dr Sa'id Aqil Al-Munawar (bukan Said Aqil Siraj yang di buku ini disebut termasuk yang mempelopori do'a bersama antar agama, satu bid'ah yang sangat tercela) yang juga alumni Saudi Arabia ketika saya wawancarai, Pak Aqil Al-Munawar menjawab, barangkali Pak Imaduddin hanya keliru saja. Saat itulah Imaduddin, salah satu orang Indonesia yang dianggap pakar Islam dan dari kelompok yang suka melontarkan penafsiran sak gaduk-gaduke (seterjangkau-jangkaunya), ternyata mengalami musibah langsung, kena batunya di forum internasional, di hadapan para ahlinya.
Omong-omong tentang "kena batunya" di depan para halinya, kalau yang sifatnya tidak di forum internasional tetapi skup nasional agaknya sering juga terjadi. Misalnya, Prof Dawam Rahardjo ketika berpidato tentang hukum waris Islam tahun 1987 --zaman KH Munawir Sjadzali jadi menteri agama dan ingin merubah hukum waris Islam antara laki-laki dan perempuan untuk disamakan satu banding satu-- di depan para utusan Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Syari'at yang rata-rata adalah para pejabat dari Peradilan Agama, Prof Dawam Rahardjo mengemukakan, kalau mau membagi harta warisan dua banding satu antara lelaki dan perempuan, bagaimana menghitungnya?
Ungkapan Prof Dawam Rahardjo itu tampaknya membela Pak Munawir yang ingin merubah hukum waris Islam dari hukum aslinya: bagian lelaki dibanding wanita adalah dua banding satu, lalu ingin dirubah jadi satu banding satu. Arah pembicaraan Dawam Raharjo adalah: Kalau satu banding satu kan mudah menghitungnya. Kalau dua banding satu, bagaimana menghitungnya?
Nah, hadirin yang memenuhi aula di suatu gedung di Kaliurang Yogyakarta itu secara spontan tampak menertawakan kepicikan Dawam Rahardjo, ketika mereka mendengar ungkapannya yang aneh itu. Seketika itu pula Prof Dawam Rahardjo tampaknya merasa kalau dirinya ditertawakan secara serempak oleh para ahli. Dalam hal ini ahli memberikan fatwa waris. Rupanya Prof Dawam Rahardjo ini seketika langsung merasa bahwa dirinya sedang "menggarami laut" dan bahkan tanpa persediaan garam yang banyak, maka pidato yang baru 10 menit itu terpaksa dia hentikan sendiri, dia ucapkan: wassalamu'alaikum warohmatullah.... lantas ia ngibrit pulang langsung ke Jakarta, tidak pakai tengak-tengok kanan kiri lagi. Peristiwa itu berbeda dengan Dr Ir Imaduddin Abdul Rahiem. Meskipun Imaduddin sudah kena batunya di forum internasional di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) Bandung, namun ia masih pula berani-beraninya khutbah di masjid IPTN itu saat itu pula. Keruan saja, KH Ahmad Khalil Ridwan alumni Madinah, kemudian berpidato keras-keras di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, meyakinkan jama'ah bahwa Dr Ir Imaduddin Abdul Rahiem tidak bisa berbahasa Arab, dengan bukti khutbah jum'atnya di Masjid IPTN Bandung salah-salah dalam membacanya. Kenapa KH Ahmad Khalil Ridwan sampai mempidatokan diri orang lain semacam itu, menurutnya karena orang yang disebut tidak bisa berbahasa Arab itu telah berani menafsiri ayat Al-Qur'an semaunya.
Demikianlah secuil suasana percaturan penyebaran ilmu Islam di Indonesia, keadaannya menyangkut-nyangkut hal-hal yang bisa merusak Islam alias merusak pemahaman Islam. Itu saja baru mengenai hal yang berkaitan dengan seluk beluk bahasa. Kembali kepada masalah awal tentang perusakan Islam, ada lagi yang merusak Islam lewat praktek perbuatan, dan ada yang lewat bahasa dan karangan. Merusak Islam lewat bahasa itu hal yang berbahaya. Bahkan ucapan yang kadang dianggap biasa saja, bisa mencemplungkan pengucapnya ke neraka selama 70 tahun.
Kita simak sabda Nabi SAW:
"Innar rojula layatakallamu bil kalimati laa yaro bihaa ba'san yahwii bihaa sab'iina khoriifan fin naari."
"Sesungguhnya ada seorang laki-laki mengucapkan satu perkataan yang dianggap tidak apa-apa (tetapi ternyata) menjerumuskannya ke dalam neraka sampai 70 tahun." (Hadits Shahih Riwayat At-Tirmidzi dalam Az-Zuhd 4/604 dari Abu Hurairah)
Berikut ini insya Allah akan diuraian tentang perusakan Islam lewat bahasa. Kemudian disambung dengan cara menanggulanginya yaitu dengan memaparkan teknik pemakaian bahasa dalam mengarang, dan rangsangan agar ummat Islam menanggulangi perusakan Islam yang dilancarkan musuh. Marilah kita bicarakan satu demi satu.
Tentang bahasa. Bahasa ialah ungkapan pikiran dan perasaan manusia yang secara teratur dinyatakan dengan memakai alat bunyi. Perasaan dan pikiran merupakan isi bahasa, sedangkan bunyi yang teratur merupakan bentuk bahasa.
Ada dua macam bentuk bahasa: bahasa lisan dan bahasa tulisan.
Bahasa tulisan dianggap merupakan sistim yang sangat bergantung kepada ujaran. (Lihat Ensiklopedi Umum, hal 116)
Asal bahasa. Bahasa itu sendiri, secara sekuler, disebut tidak diketahui asalnya. Sedangkan di dalam Islam, Al-Quran telah menjelaskan, Nabi Adam AS diajari oleh Allah SWT tentang nama-nama semuanya. Jadi, bahasa itu jelas asalnya dari Allah SWT.
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,... (QS Al-Baqarah/ 2: 31).
Bahasa Indonesia. Menurut Ensiklopedi Umum, Bahasa Indonesia berasal dan tumbuh dari bahasa Melayu Riau, Johor, daerah sekitar Selat Malaka. Sekurang-kurangnya sejak 6 abad lalu bahasa Melayu itu menjadi bahasa perhubungan. Istilah-istilah Islam tentu masuk ke dalam bahasa Indonesia sebagaimana masuk ke bahasa-bahasa bangsa lain. Lebih dari itu, Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan Al-Hadits (sumber Islam) terbukti masuk dan banyak yang menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia bahkan bahasa-bahasa daerah di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan agama, wabil khusus istilah hukum. Karena, pada dasarnya hukum yang berlaku di kerajaan-kerajaan Islam Nusantara dan Melayu (Jawi) adalah hukum Islam. Sampai sekarang, istilah nikah, talak, ruju', waris, waqaf, hibah dsb yang berasal dari bahasa Arab (Islam) menjadi bahasa resmi di Indonesia. Itu disamping istilah-istilah umum biasa seperti: sabun, fikir, kursi, huruf, hukum dsb.
Upaya menghapus istilah-istilah Islam. Pengaruh bahasa Arab yang cukup dominan ini tak disukai oleh pihak yang kurang senang dengan Islam, atau oleh orang yang mengaku Islam namun dalam hatinya mengandung penyakit ingin merusak Islam. Hingga gedung MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) yang istilahnya itu sendiri dari kata-kata Arab Islam (yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat, tiga kata itu semuanya dari kata-kata Arab), namun pada waktu jaya-jayanya Soeharto sebagai presiden RI ke2 menggulkan aliran kemusyrikan (kebatinan) dalam GBHN 1978, lantas nama ruangan-ruangan gedung MPR itu diganti dengan bahasa Sanskerta, bahasa usang yang sudah tak terpakai. Seperti ada ruang wirashaba dsb yang hampir seluruh masyarakat sulit mengucapkannya, apalagi untuk tahu artinya. Juga memberi nama "kereta api cepat" dengan nama Argo (gunung) Gede, Argo Bromo, Argo Lawu; sedang pesawat terbang dinamai Tetuko (nama wayang) dsb. Belum lagi masalah penghapusan tulisan Arab dari uang resmi setelah tahun 1960-an, dan penghapusan pelajaran menulis dan membaca Arab- Melayu sejak 1970-an. Padahal tulisan Arab itu sampai kini justru digalakkan di negeri jiran seperti di Brunei Darus Salam yang setiap plang (papan nama)jalan ataupun plang-plang di bandar udara/ lapangan terbang ditulis dengan tulisan Arab. Namun di Indonesia, plang IAIN (Institut Agama Islam Negeri) pun dihapus dari tulisan Arabnya (Al-Jami'ah Al-Islamiyyah Al-Hukumiyyah/ )sejak menjelang tahun 1990-an (?).Masjid-masjid pun plangnya sudah banyak yang tidak memakai huruf Hijaiyyah lagi. Sementara di balik itu ada yang ghuluw (ekstrem) hingga tembok di dalam masjid ditulisi dengan apa yang disebut kaligrafi aneka macam tulisan.
Penyesatan dengan bahasa yang tampak Islami. Sementara itu ada juga yang mengambil kesempatan menggunakan tulisan Arab dan Bahasa Arab yang tampaknya Islami, untuk karangan-karangan yang menyesatkan ummat Islam, bahkan menjajakan kemusyrikan secara terbuka. Misalnya buku-buku Mujarobat yang isinya bercampur dengan kemusyrikan, primbon-primbon (ramalan-ramalan, khurofat, tathoyyur, takhayyul dsb), tafsir-tafsir mimpi yang tidak shohih dan bahkan kitab-kitab kuning (Arab Gundul, hurufnya tidak pakai baris/ harokat dan kertasnya biasa berwarna kuning) pun tidak terbebas dari hal-hal yang menjerumuskan aqidah ummat Islam. Misalnya kitab tentang Nur Muhammad, yang hal itu intinya: Tidak dijadikan dunia seisinya ini kecuali karena Nur Muhammad. Itu adalah keyakinan orang shufi (tasawuf) sesat yang bercampur filsafat Yunani dan kepercayaan bathil Nasrani. Lalu diberi dalil berupa hadits palsu/ maudhu':
Laulaaka lamaa kholaqtul aflaaq (Seandainya bukan karena engkau Muhammad, maka pasti tidak Aku ciptakan planet-planet ini). Ini sangat dipegangi di kalangan shufi (orang tasawuf) sesat. Setiap mereka memperingati maulid Nabi SAW --yang tidak ada perintahnya samasekali dalam Islam--, selalu mereka kemukakan hadits palsu itu (baca rangkaian ini pada bab mengenai tasawuf di buku ini, atau selengkapnya baca tentang Nur Muhammad di Buku Mendudukan Tasawuf, Gus Dur Wali?). Juga kitab-kitab lain yang dipakai kalangan shufi bahkan pesantren umum di Indonesia di antaranya Kitab Durratun Nashihien yang mengandung banyak hadits palsu dan bahkan khayalan yang jauh dari ajaran Islam. Semua itu menggunakan tulisan Arab dan Bahasa Arab, namun kini di-Indonesiakan oleh orang-orang yang hanya mengejar duit, tidak menggubris sesatnya ummat.
Istilah Islami diselewengkan kaum sekuler. Ada juga istilah yang asalnya Islam diselewengkan kepada kemusyrikan, misalnya upacara sesaji kemusyrikan dinamai sedekah bumi. Lafal sedekah itu dari shodaqoh. Ada juga perkataan lokal yang secara haqiqi bermakna biasa, namun secara maknawi- kemusyrikan dimaknakan lain, seperti: wedus gembel itu artinya adalah kambing kibas, namun oleh pihak tertentu dijadikan sebagai nama (lambang kepercayaan syirik) penyebab timbulnya angin panas yang menghanguskan manusia dan hewan di Kaliurang Yogyakarta 1994. Hingga koran (Islam?) Republika pun ikut-ikutan mempublikasikan istilah kemusyrikan itu. Kaum sekuler pun bertingkah pula. Mereka gigih mengganti istilah-istilah Islam-Arab dengan istilah Barat. Misalnya, mereka alergi menggunakan istilah [1]akhlaq[1] hingga mereka ingin menggusurnya dengan istilah etika atau moral, sedang Aqidah-Tauhid diganti dengan Teologi. Istilah tahkim diganti dengan arbitrase. Mereka tak mau menggunakan istilah Ahad, lalu diganti dengan Minggu, dan bahkan bukan sekadar harinya yang diganti namun tanggal qomariyah yang merupakan penanggalan yang berkaitan dengan ibadah telah mereka upayakan untuk ditinggalkan, hanya memakai tanggal syamsiyah. Hingga generasi Islam pun tidak hafal nama-nama bulan Hijriyah/ qomariyah. Itu semua adalah upaya mengikis Islam dari segi bahasa dan istilah.
Orang-orang jahil pun ikut-ikutan merusak Islam secara sadar ataupun tidak, dalam hal memompakan istilah. Pernah ada pejabat tinggi negara yang ingin menamakan pelacur dengan "wanita harapan" di masa jaya-jayanya Presiden Soeharto. Bahkan selama pemerintahan Soeharto, istilah pelacur telah diganti dengan "wanita tuna susila" kemudian disingkat dengan WTS. Hingga orang tua dari gudang WTS di Indramayu Jawa Barat pernah dikhabarkan ada yang bangga anaknya jadi WTS di Jakarta karena duitnya banyak, sedang ia tak tahu apa arti kata "WTS" itu.
Menghalalkan perzinaan lewat bahasa. Untuk menghalalkan pelacuran, dimunculkan pula istilah pekerja seks. Seakan perbuatan yang melawan hukum Allah itu menjadi salah satu jenis pekerjaan yang perlu disahkan. Na'udzubillaahi min dzaalik. Setelah perzinaan merajalela, wanita-wanita karier banyak yang dikhabarkan menyeleweng, maka dimunculkan pula istilah yang seolah-olah bukan larangan agama. Pasangan zina laki-laki cukup disebut PIL (Pria Idaman Lain), sedang pasangan zina perempuan disebut WIL (Wanita Idaman Lain). Artinya, para pezina itu sudah punya isteri atau suami namun kemudian berzina. Mereka itu seharusnya dirajam, yakni dihukum mati oleh pengadilan, caranya ditanam setengah badan di depan umum (misalnya di depan masjid), lalu dilempari batu kecil-kecil sampai mati. Namun yang dimunculkan dalam istilah yang merusak Islam itu justru istilah menggiurkan yaitu pria idaman, dan wanitaidaman. Sehingga pasangan zina justru disebut idaman. Na'udzubillahi min dzaalik.
Para pengomando seks bebas entah itu berkedok sebagai dokter ahli seks ataupun lainnya mempromosikan istilah itu secara gencar sebagai penyambung lidah aspirasi syetan yang merusak Islam. Belum lagi iklan kondom yang digencarkan dengan suara mendayu-dayu yang intinya menghalalkan zina asal pakai kondom. Suatu penentangan agama yang terang-terangan, namun tidak diambil tindakan oleh pemerintah. Padahal, diturunkannya ayat yang artinya Barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang kafir, itu adalah berkaitan dengan enggannya kaum Yahudi menerapkan hukum rajam atas pezina yang telah diwahyukan Allah SWT dalam Taurat. Malahan kini ada gejala yang lebih bandel lagi ketimbang Yahudi itu. Kini bukan hanya tidak mau melaksanakan hukum rajam, namun bahkan menghalalkan perzinaan dengan aneka bahasa dan dalih. Astaghfirullaahal 'Adhiem. Kadang penghalalnya itu perempuan lagi, dengan membela-bela diteruskannya lokalisasi pelacuran, dan mereka tak rela akan dibubarkannya, dengan aneka dalih.
Wanita-wanita murahan yang kerjaannya suka dipotret telanjang pun berani berkilah-kilah dengan bahasa, katanya ketelanjangannya itu hanya trik kamera. Lalu pihak-pihak yang mendukung sarana perzinaan dengan menyebarkan gambar-gambar porno pun tak mau kalah, mereka menyebut yang porno itu dengan istilah keren, estetika alias seni keindahan. Syetan telah mengomandoi mereka, maka menganggap baik kejorokan yang mereka lakukan.
Golongan ahli rancu terjerumus. Satu partai yang didirikan oleh organisasi berlabel Ulama pun konon berkampanye di daerah pelacuran, dan para pelacur merengek agar tidak dibubarkan sarang pelacurannya. Bisa diucapi, memang babi atau tikus got (pecren,Jw) itu lebih suka hidup di comberan. Apakah ini sudah salah kedaden (salah pola dasarnya)? Wallahu a'lam. Yang jelas, trend sikap suatu gerombolan, geng, atau bahkan golongan tertentu, sering berkait berkelindan dengan lakon para penggedenya. Ada orang terkemuka dari golongan itu yang dikenal dengan sebutan Gus Anu. Dia ini hafal Al-Quran dan sering mengadakan sima'an Al-Quran, pembacaan Al-Quran secara hafalan, dan didengarkan banyak orang di suatu majlis. Gus Anu itu konon suka datang ke daerah remang-remang, hingga wanita-wanita pelacur yang disebut penghibur (ini istilah yang mengelabui pula) banyak yang kenal. Diberitakan, si hafal Quran itu minum minuman bir hitam segala.
Lalu sampai pada usianya pun meninggallah ia. Lakon seperti itu kemudian dipuji-puji pula oleh seseorang --yang terkemuka dan pernah saya tulis buku khusus tentang bahaya pemikirannya-- untuk mengenang kematiannya di koran Katolik tempat menggedekan si pemikir bahaya itu. Lha kalau lakon seperti itu saja dipuji, maka lakon berkampanye di tempat pelacuran oleh partainya itu ya dianggap lumrah (biasa, wajar). Padahal, kalau orang yang sedang kampanye di tempat pelacuran itu tiba-tiba mati di sana, dan atau ada adzab jatuh di sana, maka suu-ul khotimah (buruk akhir hayatnya) lah mereka. Kenapa? Karena, pada hakekatnya sama dengan sudah rela terhadap keberadaan tempat maksiat itu sendiri. Namun berhubung cara berfikir mereka sudah rancu dan sering menolak nasihat kebenaran alias sombong, maka begitulah adanya. Terjadilah apa yang terjadi. Itu di antaranya gara-gara pengelabuan istilah berupa apa yang mereka sebut "wali". Istilah "wali", bagi mereka bisa kalis (terkena tapi tak berbekas) dari kesalahan, hatta kesalahan yang jelas-jelas amat sangat mencolok secara syar'i. Imbasnya, muballigh kondang
Zaenuddin MZ pun pernah terpeleset pula, ia berpidato dengan bangga bahwa dirinya berceramah di tempat pelacuran. Keterpelesetan semacam itu mudah-mudahan tak terulang, dan hendaknya beliau tidak mengulangi ketidak cermatannya dalam memahami Islam. Seorang bekas bajingan seperti Anton Medan pun mendirikan lembaga yang di antara programnya mengkhususkan penerjunan para da'inya untuk berda'wah ke tempat pelacuran. Giliran tempat mesum itu diliburkan oleh Gubernur DKI Jakarta Surjadi Sudirja untuk pertama kalinya pada Ramadhan 1417H, maka program yang sudah dirancang rapi oleh Anton dan anak buahnya itu gagallah. Boleh diperkirakan, justru mereka "menyesal" dengan diliburkannya tempat pelacuran itu. (Lihat buku Di Bawah Bayang-bayang Soekarno Soeharto, Tragedi Politik Islam..... Darul Falah Jakarta, 1420H). Kenapa Anton berprogram seperti itu? Wallahu a'lam. Tetapi gurunya, kita kenal adalah seorang terkemuka dari golongan seperti tersebut di atas, tidak lain adalah Kiai Haji Noer Muhammad Iskandar SQ tokoh PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) pembela utama Gus Dur,
yang telah punya pemahaman rancu mengenai pernikahan, dipraktekkan pula hingga pernah heboh dan memalukan.
Jadi istilah "wali" yang disalah artikan seperti tersebut di atas, ternyata rangkaiannya sangat jauh, dan pengaruhnya amat jauh dari ajaran Islam, secara melembaga di suatu organisasi dan kalangan pesantren yang mengaku Ahlus Sunnah namun seringkali belepotan dengan bid'ah.
Gerombolan dukun dengan istilah mentereng. Dari segi pelanggaran aqidah yang amat tinggi pun diciptakan istilah yang sangat merusak aqidah. Dukun santet, dukun nujum, dukun ramal dsb diganti dengan istilah para normal. Kemudian secara terang-terangan mereka mengiklankan diri dan disponsori oleh media massa yang dalam hal ini merusak Islam di antaranya koran Pos Kota untuk diadakan praktek secara nasional dengan iklan besar-besaran. Lalu diberitakan pula dengan cara yang menarik.
Sehingga seakan sebagai hiburan belaka, sedang para dukun itupun telah menjerumuskan ummat dengan mengeruk duit per-orang Rp300.000,-. Padahal, menurut Nabi Muhammad SAW, mendatangi dukun untuk bertanya sesuatu saja sudah ditolak sholatnya 40 hari. Sedang kalau bertanya kepada dukun tentang sesuatu dan (lantas) meyakininya maka dihukumi telah kafir terhadap Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, menurut hadits shahih. Namun justru kini secara terang-terangan para dukun perusak aqidah itu membuat apa yang mereka sebut PPI (Paguyuban Para Normal Indonesia) yang konon anggotanya telah mencapai 60.000 dukun. Jadi penjaja kemusyrikan yang dulu masih ngumpet-ngumpet (sembunyi-sembunyi), kini telah terang-terangan. Padahal, bahayanya bagi ummat tidak kalah dengan bahaya garong, copet, maling ataupun gedor, kecu, bangsat, dan bajingan lainnya. Hanya saja para bajingan itu merugikan secara harta, namun apa yang disebut para normal itu merusak total aqidah ummat, yang justru lebih sangat-sangat berbahaya. Namun penguasa tampak diam-diam saja, bahkan pernah ada pejabat kabupaten di Bantul Yogyakarta yang dikhabarkan membayar dukun sampai satu miliar rupiah.
Aneh bin ajaib, di kalangan orang Islam sendiri menyetujui apa yang disebut "orang pinter". Padahal, hakekatnya sami mawon (sama saja), dukun-dukun juga. Walaupun yang disebut orang pinter itu berlabel kiai, tetap sama juga dengan dukun Mbah Jambrong, kalau prakteknya dukun-dukun juga. Namun masyarakat mengidentikkan dukun itu dengan kiai. Hingga ribuan orang dari golongan yang sering rancu aqidahnya berduyun-duyun ke dukun yang disebut kiai untuk minta ilmu kebal. Suatu bentuk pelanggaran aqidah yang terang-terangan, namun dilakukan secara demonstratip oleh golongan bid'ah dan khurofat. Ini satu kerancuan akibat pengelabuan lewat bahasa. Karena kemusyrikan perdukunan makin dianggap biasa, maka di saat tumbuh reformasi dan bermunculan media massa baru, lalu ada yang justru rajin mengiklankan kemusyrikan. Contohnya, koran Duta yang dikenal koran kaum NU (Nahdlatul Ulama) yang berhaluan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) tampak bersemangat mengiklankan susuk, yaitu aji-aji kemusyrikan, dengan disebut ratu susuk asmara. Itu jelas menjerumuskan, seolah aji-aji susuk kemusyrikan itu boleh-boleh saja.
Demikian pula koran yang konon SIUPP-nya Islam seperti Harian Terbit suka mengiklankan kemusyrikan itu pula. Televisi swasta pun ada yang mengobral kemusyrikan model itu. Semua itu dikemas dengan bahasa yang seakan tidak ada masalah menurut agama.
Membredel lafal-lafal Islami. Di balik itu semua, anak-anak kita pun telah kita lepaskan ikatannya terhadap lafal Allah. Hingga mereka tidak kita biasakan mendekat pada-Nya. Justru kita jauhkan dari Allah sejengkal demi sejengkal. Yang semula anak kita masih mengucap: "Ya Allah... kini kita jauhkan dari kata-kata itu. Kita ganti dengan Ya ampun...., Ya amplop... dan sebagainya. Yang tadinya anak-anak kita diajari ustadznya agar membaca alhamdulillaah ketika bersin atau bangkis, kini telah kita jauhkan dari puji syukur itu. Yang tadinya masyarakat kita fasih mengucapkan astaghfirullah ketika terperanjat, kini kita jauhkan dari istighfar itu dengan ucapan: astaga, atau bahkan astaganaga yang tidak punya makna minta ampun pada Allah sama sekali.
Semua sedekah-sedekah yang bisa kita lakukan dengan mulut seperti membaca alhamdulillaah, astaghfirullaah, Allahu akbar, innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun, dan sebagainya itu telah kita bredel dari diri kita, masyarakat kita, anak-anak kita, bahkan cucu kita. Jadilah kita ini orang-orang yang sekuler, tidak mau menyebut nama Allah, apalagi berdzikir. (Lihat Buku Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, 1994, hal 41).
Penerjemahan. Sejak tahun 1980-an tumbuh subur penerbit-penerbit Islam yang mencetak buku-buku terjemahan dari bahasa Arab, buku Islam. Pengaruhnya cukup luas karena sambutan generasi muda Islam dan kaum terpelajar cukup baik. Hanya saja kadang timbul beberapa masalah di antaranya tentang bahasa, misalnya kurang tepatnya penerjemahan. Dan masalah lain lagi tentang belum tentu kitab yang diterjemahkan itu baik dan benar secara Islam. Sedang penerjemah pun belum tentu tahu persis ilmu atau maksud dari penulisan buku yang diterjemahkan itu. Sehingga pada hakekatnya buku-buku terjemah itu baru merupakan alternatif terendah ketika kita belum menguasai bahasa aslinya yakni Arab.
Mengenai bahasa, sering ada idiom kata-kata Arab yang sulit diterjemahkan. Misalnya, lafal Tsakilatka ummuk, waihaka, taribat yadaaka, 'aqro halqo dsb yang semua itu ada di dalam hadits. Suatu ungkapan yang ditujukan kepada mukhotob (orang yang diajak bicara) secara lahiriyah berisi dzam (celaan) atau bahkan do'a maut, namun bukan dimaksudkan demikian.
Bahasa dalam mengarang. Bahasa ini sangat penting bagi penulis naskah, karena pada dasarnya menulis karangan itu adalah mengemukakan buah pikiran dengan bahasa.
Bahasa tulis ini sifatnya lebih tinggi dibanding bahasa pergaulan sehari-hari. Sehingga, di samping pengarang itu gagasannya (fikroh dan tashowwurnya/ pemikiran dan persepsinya) jelas, masih pula dituntut mampu mengemukakan buah pikirannya itu dengan bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah pemahaman umum. Karena bahasa memang sifatnya umum. Hanya saja, orang yang kreatif kemungkinan bisa memasyarakatkan buah pikiran sekaligus memasyarakatkan istilah-istilah dalam bahasa sesuai dengan ideologinya. Hingga tidak terasa, orang akan ikut mengucapkannya, padahal istilah itu menyalahi aqidah. Misalnya, dimunculkan istilah [1] "di bumi pancasila ini", "hari kesaktian pancasila", "padamu negeri jiwa raga kami"[1] dsb. Istilah itu tidak sesuai dengan aqidah Islam, namun banyak orang Islam yang ikut-ikutan mengucapkannya. Bahkan, dalam upacara penguburan mayat konon diucapkan, "Kita serahkan jenazah ini kepada ibu pertiwi".
Kata-kata itu bertentangan dengan Islam yang menuntun ummat untuk mengucapkan:
"Bismillahi wa 'alaa millati Rasulillaah"
"Dengan nama Allah, dan atas agama rasul Allah." (HR At-Tirmidzi dan Abu Daud). Bukan menyerahkan mayat kepada bumi.
Ini menyangkut aqidah yang sifatnya prinsipil, namun bisa dimainkan penyelewengannya lewat bahasa.
Tata bahasa. Masalah-masalah seperti itu perlu dicermati bagi pengarang Muslim, penceramah, atau da'i. Di samping itu, tata bahasa pun harus dikuasai, agar karangan yang ditulis tidak bertentangan dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Kaidah itu misalnya dalam bahasa Indonesia memakai hukum DM (diterangkan menerangkan). Contohnya, kata "hijau lumut", maksudnya warna hijau seperti lumut. Hal ini biasanya berbalikan dengan bahasa Inggeris. Sedangkan dengan Bahasa Arab, biasanya sama. Hanya saja, dalam bahasa Arab yang relatif hukum DM ini sama dengan Bahasa Indonesia pun kadang-kadang akan timbul penerjemahan yang berbeda, karena beda persepsi dalam hal mana yang diterangkan. Contohnya, Surat Al-An'aam ayat 123:
Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri akaabiro mujrimiihaa agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. (QS Al-An'aam/ 6: 123).
Lafal akaabiro mujrimiihaa itu terjemah Depag sendiri ada dua macam. 1, penjahat-penjahat yang terbesar (dalam Al-Quran dan Terjemahnya, Depag RI 1971, halaman 208), dan 2, pembesar-pembesar yang jahat (dalam Al-Quran dan Tafsirnya, Depag RI 1985/1986, juz 8 halaman 266). Dua makna itu berbeda pengertiannya. Yang satu pembesar-pembesarnya yang jahat, sedang yang satunya lagi penjahat-penjahatnya yang besar.
Memilih kata dan kalimat
Menggunakan bahasa dalam mengarang, berarti memilih kata dan kalimat. Jadi, membuat karangan itu pada pokoknya adalah:
1. Memilih kata-kata.
2. membuat kalimat.
3. Membuat kerangka (outline)
4. Menuntaskan satu bentuk karangan.
5. Mengoreksi kebenaran bahasa, tulisan, alur, dan isi karangan.
Memilih kata-kata dan membuat kalimat dalam suatu karangan hendaknya diupayakan agar bahasanya benar dan baik. Bahasa yang benar yaitu yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa yang dipakai.
Adapun kalimat dan kata-kata yang baik, artinya kata-kata yang tingkatannya tinggi, bahasa sopan atau resmi. Dalam Bahasa Arab disebut bahasa fush-haa bukan bahasa 'aamiyyah, pasaran.
Dari sini bisa dimaklumi bahwa mengarang itu bukan sekadar mengeluarkan ide atau pemikiran, namun juga bagaimana cara menyajikan buah pikiran itu lewat bahasa tulisan. Secara mudah ibaratnya orang mau menyajikan makanan, maka ia harus menyediakan bahan makan, lalu berupaya memasaknya, kemudian menyajikannya ke meja makan untuk dimakan. Sehingga, karangan yang buah pikirannya bagus mesti didukung dengan bahasa penulisan yang bagus dan benar. Karangan yang bagus adalah yang isinya bagus dan benar, bahasanya bagus dan benar, dan alurnya bagus hingga tidak bolak-balik.
Karangan yang baik dan menarik. Karangan yang bagus dan benar itu belum tentu menarik untuk dibaca. Untuk lebih bisa punya daya tarik perlu dukungan kata-kata yang menarik, dan teknik-teknik lainnya, di antaranya dengan memilih judul yang menarik, mengawali karangan dengan kalimat yang jelas dan ungkapan yang menarik, dan persoalan yang dikemukakan itu sendiri ditonjolkan lebih dulu segi-segi mana yang menarik.
Bahasa yang menarik itu berbeda-beda antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, satu suku dengan suku lainnya, bahkan satu lapisan masyarakat dengan lapisan lainnya. Orang awam tidak suka bahasa-bahasa asing, orang terpelajar tak suka bahasa pejabat, sedang orang Islam harus menjauhi bahasa-bahasa sekuler dan musyrik.
Misal, sebuah teks khutbah tidak layak diawali dengan kisah:
Dengan diiringi gendang serta gamelan yang bertalu-talu disertai bau kemenyan yang mewangi, jenazah pelawak Gepeng diberangkatkan dari rumah duka siang itu.
Bahasa dan isi kalimat tersebut sarat dengan makna yang mengandung ideologi kepercayaan berbau kemusyrikan. Pintarnya orang meramu berita, pidato, kisah, laporan dsb dengan kata-kata yang indah dan menarik, sering menjerumuskan orang ke arah sesat yang jauh. Justru di situ tantangan ummat Islam, khususnya para da'i. Mampukah dan maukah mengimbangi kegigihan mereka? Ummat Islam ditantang adu canggih, sampai dalam hal kecanggihan meramu kata-kata untuk mengungkapkan buah pikiran lewat teks. Entah itu sekadar slogan di spanduk, di iklan, di siaran-siaran singkat dsb, maupun yang sifatnya teks serius seperti khutbah, makalah, artikel, paper, buku ilmiah dan sebagainya.
Menangkal serangan. Teori itu perlu sekali kita praktekkan dalam menangkal berbagai serangan yang merusak Islam seperti uraian tersebut di atas.
Perlu diingat, kalimah syahadat pun diacak-acak Nurcholish Madjid dengan cara menerjemahkannya menjadi Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar). Sedang lafal Assalamu'alaikum diinginkan Gus Dur untuk diganti dengan selamat pagi. Kuburan pun diberi istilah "keramat" entah oleh siapa, yang kandungannya rawan syirik. Lalu Gus Dur menghidupkan Sunnah Sayyi'ah (jalan keburukan) tentang pengeramatan itu dengan menghadiri kuburan Joko Tingkir di Lamongan Jawa Timur yang tak banyak dikenal orang, akibatnya praktek rawan kemusyrikan itu marak kembali sejak Juli 1999. (Tulisan ini bukan berarti anti ziarah kubur, namun dalam hal ini jelas kaitannya dengan pengeramatan kuburan yang jelas mengandung kerawanan syirik). Sementara itu pihak Nasrani lewat Nehemia-nya mengacak-acak Islam dengan menyebarkan lembaran-lembaran yang disebut [1]Dakwah Ukhuwah[1] padahal isinya memutar balikkan ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadits.
Ya! Itu semua adalah serangan gencar yang merusak Islam. Maka Islam pun terhadap ummat ini senantiasa minta bukti, apa yang telah kita upayakan dalam kancah peperangan yang menuntut kecanggihan dan kegigihan ini.

.

http://Link-exchange.comxa.com literatur islam, info software dan hardware, tips blogger, syiah sesat, sejarah islam nusantara Kostenlose Backlinks bei http://www.backlink-clever.de

Subscribe here